Archive

Archive for the ‘Keindahan Islam’ Category

Evaluasi Untuk Introspeksi Diri

7 January 2011 Leave a comment

Jumat hari ini tanggal 2 Shafar 1432 H atau 7 Januari 2011. Seperti biasa, sebagai seorang muslim melakukan sholat Jumat yang memang diwajibkan bagi orang laki-laki. Waktu Sholat Dzuhur di Bali 12.15 Wita, saat itu pula berlangsung Sholat Jumat yang dimulai dengan 2 kali Khutbah Jumat. Materi yang dibawakan kali ini adalah catatan akhir tahun bagi seorang muslim, target tahun sebelumnya apakah terlampaui atau malah tidak tercapai sesuai target yang diinginkan ! Yuk, kita evaluasi diri selama satu tahun ini, apakah targetnya tercapai atau malah sebaliknya gagal.

Evaluasi diri dalam menjalani kehidupan di dunia ini adalah sangat penting. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan-Nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi, perencanaan,, strategi,, pelaksanaan dan evaluasi. Rasulullah bersabda, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’

Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian. Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’

Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah SAW juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.

Umar r.a. mengemukakan:

‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.

Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:

‘Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.

Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]. Banyak dikalangan orang islam lebih mengutamakan perbedaannya, bukannya urgensi atau target yang dicapainya dengan melakukan ibadah-ibadah tersebut. Salah satunya Seperti meributkan jumlah bilangan rakaatnya, ketimbang tujuan dari Sholat itu sendiri yaitu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Itulah sebabnya implikasi dari Sholat kita, tidak membekas pada perbuatan sehari-hari. Sebenarnya bukan itu, urgensi dari masing-masing ibadah. Bukankah tujuan ibadah itu adalah taqwa.

Setiap ibadah dalam Islam, apakah itu shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa, dan menunaikan haji, memiliki dua demensi. Pertama, kegiatan ibadah dimaksudkan untuk memenuhi kewajiban atau penggilan Allah SWT, dalam rangka hablum minallah. Kedua, ibadah yang dilakukan oleh hamba Allah itu memiliki implikasi sosial. Dimensi kedua ini menyaran pada implikasi hablum minallah terhadap hablum minannas.

Dalam dimensi kewajiban, ibadah shalat (lima waktu), membayar zakat, menjalankan puasa, dan menunaikan haji merupakan ibadah yang wajib hukumnya (fardlu ‘ain); artinya setiap muslim wajib melaksanakan ibadah-ibadah itu, kecuali haji, ibadah haji wajib hukumnya bagi seorang muslim yang mampu untuk menunaikannya.

Dalam ajaran Islam, ibadah shalat merupakan ibadah yang sangat penting. Karena sangat pentingnya shalat, maka shalat dipandang sebagai tiang agama. Shalat, digariskan sebagai ibadah yang mampu mencegah umat muslim dari perbuatan keji dan munkar, memiliki dimensi sosial, antara lain, mendidik umat manusia untuk berlaku demokratis. Sewaktu melaksanakan ibadah shalat berjamaah di mushalla atau masjid, antar kaum muslimin tidak ada perbedaan; tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, bawahan dan atasan, kaum elit dan rakyat biasa dan sebagainya. Seseorang yang paling awal datang ke mushalla atau masjid untuk shalat berjamaah, dia memiliki hak untuk menempatkan diri pada barisan terdepan. Implikasi sosial lebih lanjut bisa dilihat bila seorang muslim kembali ke tengah-tengah masyarakat, dia akan mendahulukan atau memperhatikan hak orang lain ketimbang hak yang dimilikinya. Ini berarti bahwa dia tidak akan merasa menang sendiri, dia tidak akan merasa pintar sendiri, dia tidak akan merasa benar sendiri, tidak melakukan korupsi dan manipulasi, karena dua perbuatan ini mengarah kepada pengambilan sesuatu yang bukan menjadi haknya, dan sebagainya.

Demikian pula, ibadah puasa juga mendidik kaum muslimin untuk tidak berburuk sangka, tidak melakukan pembedaan (discrimination), dan sejenisnya terhadap sesama umat manusia. Hal ini didasarkan pada salah satu unsur puasa adalah menahan lapar dan dahaga. Perasaan lapar dan dahaga merupakan masalah keseharian yang dihadapi oleh orang-orang miskin, namun bukan menjadi masalah bagi orang-orang berada. Pada tataran tertentu, seseorang yang berasal dari kelompok orang berada akan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya yang berada di bawah garis kemiskinan, yaitu perasaan lapar dan dahaga. Hal ini, sebenarnya, mengajarkan pada umat manusia untuk tidak berpurbasangka, melakukan diskriminasi atau pembedaan terhadap sesama umat.

Implikasi sosial yang dipancarkan oleh ibadah zakat bisa timbul dari hikmah ibadah puasa. Seperti diketehui dan dirasakan bahwa setiap orang yang berpuasa pasti mengalami rasa lapar dan dahaga. Dengan mengalami sendiri bagaimana rasanya lapar dan dahaga sewaktu berpuasa itu, maka orang-orang dari kalangan kaya terlatih untuk merasakan derita lapar dan dahaga sebagaimana yang dialami oleh golongan fakir-miskin dalam hidup keseharian mereka. Ajaran ini diharapkan dapat menimbulkan rasa belas kasihan dan sifat penyantun si kaya terhadap si miskin. Pada waktu-waktu selepas puasa, diharapkan bahwa si kaya atas kemauannya sendiri akan selalu mengulurkan tangan, memberikan pertolongan dan bantuan baik secara material maupun non-material. Bantuan-bantuan itu bisa berupa infak, sedekah dan zakat (materi) dan nasihat, dorongan moril dan sejenisnya (non-materi). Dalam kehidupan bernegara, ajaran ini menggariskan kepada para pemegang kekuasaan untuk mengarahkan segala kebijakan (ekonomi, politik, dan sosial budaya, dan sebagainya) demi kepentingan orang banyak, khususnya orang miskin, bukan demi kepentingan untuk mencari popularitas dalam rangka mempertahankan kekuasaan mereka.

Implikasi sosial yang terpancar dalam ibadah haji, antara lain, adalah terciptanya persaudaraan sesama umat Islam dari seluruh pelosok dunia dan sekaligus merupakan syiar Islam yang luar biasa. Setiap musim haji tiba, sejumlah besar umat Islam yang berasal dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Momen ibadah haji ini bisa dimanfaatkan sebagai syiar Islam dan sekaligus sebagai sarana untuk menjalin persaudaraan sesama muslim sedunia. Usai menunaikan ibadah haji, seorang muslim dapat memanfaatkan momen ibadah yang telah dilaksanakan itu sebagai titik tolak untuk mengembangkan tali persaudaraannya dengan sesama umat muslim, dengan umat sebangsa di tanah airnya secara lebih baik.

Jadi hendaknya menyikapi akhir tahun ini bukannya berhura-hura, tetapi introspeksi diri. Apakah target kita tercapai ? Apakh ibadah kita makin baik atau malah sebaliknya ? Kita bisa evaluasi, kalo kita memiliki target-target yang akan dicapai. Termasuk orang yang beruntung jika bisa melawati sasaran target-target tersebut. Ataukah malah sebaliknya, malah termasuk orang yang merugi karena gagal. Dan ingatlah bahwa, Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara ; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi).

So, yuk introspeksi lagi diri kita !

Categories: Hikmah Jum'at Tags: ,

Jodohku Siapa Yaa ?

4 January 2011 1 comment

 

Tulisan ini berawal dari ketertarikan saya untuk mengomentari status facebook dari teman saya kala itu. Ada beberapa kalimat yang mengganggu dan mungkin sedikit perlu saya luruskan. Sekali lagi tidak bermaksud apa-apa, hanya sekedar mengemukakan pendapat saya tentang isi dari status tersebut dan bukan pula atas kesombongan pengetahuan yang saya miliki, Karena sesungguhnya setiap ilmu datangnya dari Alloh, manusia tempatnya salah dan lupa, begitupun saya yang tidak luput dari salah. Seandainya ada pihak yang merasa dirugikan, saya mohon maaf, bukan maksud saya untuk itu. Ini hanya sekedar shearing saja..

“Sahabat, hidup ini bukan hanya untuk jodoh dan kawin, sudahlah… jangan terlalu banyak menyia-nyiakan waktu mengejar yang belum pasti menjadi jodoh kita dan banyak bersedih hanya untuk urusan jodoh dan kawin…., dst”

Memang bukan, tapi apakah salah kalo menginginkan seseorang untuk menjadi jodoh kita ? Dalam Islam adalah fitrah bagi makhluk Alloh untuk saling menyukai. Ketertarikan itu adalah fitrah manusia. Hanya saja kita perlu berhati-hati dalam memiliki ketertarikan terhadap seseorang. Salah-salah bisa menjadi penyakit hati dan membawa kita kearah yang tidak diridhoi Alloh. Kita sebagai makhluk Alloh tentu harus mengikuti syariat Alloh. Pendekatan yang disyariatkan Islam adalah taaruf. Taaruf untuk menikah.

Kadang selama ini kita sering kali menganggap jodoh adalah sebuah misteri. Artinya jodoh adalah sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh manusia. Hanya Alloh yang mengetahui hal tersebut. Anggapan orang-orang bilang bahwa jodoh adalah misteri adalah terindikasikan bahwa jodoh sesuatu yang telah Alloh tentukan untuk kemudian disembunyikan dari hambanya, sehingga jodoh tetap menjadi misteri. Tetapi benarkah jodoh itu misteri ? Apakah jodoh adalah sesuatu yang telah ditetapkan dan diatur oleh Alloh? Lantas, apakah tidak ada kebebasan bagi manusia untuk memilih jodoh untuk dirinya sendiri.

Memang menikah adalah suatu hal yang sunnah yang perlu dilaksanakan. Tapi bagaimana kalau seseorang belum mapan tapi ada keinginan untuk menikah, baginya menikah bukan sebuah permainan. Karena dalam suatu pernikahan tersimpan suatu yang sakral untuk kita hormati. Untuk itulah biasanya terkadang kita tidak mau terburu-buru. Bukankah nanti jodoh akan datang dengan sendirinya, Alloh yang akan memberi jalan-Nya dalam setiap ikhtiar kita.

Namun demikian, ada hukum kehidupan yang kita kenal dan barangkali kita juga pernah mendengan pepatah ini “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.” Artinya untuk memperoleh pasangan hidup bukankah harus ada proses interaksi terlebih dahulu. Jadi sangatlah tidak mungkin kalau seorang berdiam diri saja dirumah. Tanpa berinteraksi atau bermuamalah dengan siapa pun tak akan memperoleh pasangan.

Oleh karena itu menurut saya, jodoh kita berada di tempat dimana kita berada dengan tingkat intensitas yang tinggi. Misalnya, apabila kita sering “nongkrong” di Cafe, kita akan memperoleh jodoh kita ada ditempat dimana kita “nongkrong” tersebut. Seperti ungkapan yang sering kita dengar, “Kalau kita bergaul dengan tukang minyak wangi, kita akan kecipratan wanginya. Begitu juga kalau kita bergaul dengan seorang pembunuh tentunya kita akan kecipratan darahnya pula”. Terserah kita menyikapi ungkapan itu seperti apa. Hampir sama ketika menentukan jodoh! Kalau ingin mendapatkan wanita sholeha, ya kita harus banyak pergi ke Majlis Taklim, atau tempat-tempat yang baik, bukannya ke bar maupun ke pub. Bukankah begitu ?

Jadi jodoh bukanlah sebuah misteri, karena pada dasarnya kita dapat mengetahui siapa yang kira-kira akan menjadi jodoh kita. Lalu bagaimana dengan orang yang sudah menikah dan kemudian cerai, apakah itu bukan jodoh ? Janganlah kita katakan,” bukan jodoh,” atas hal tersebut. Sesungguhnya hal itu merupaka kegagalannya dalam mengelola hubungan dengan seseorang, dimana seseorang masih mengedepankan ego-nya masing-masing. Terus bagaimana dengan yang belum dapat pasangan? Hal itu bukankah berarti Alloh belum memberikan atau memilih seseorang untuk kita. Dan apabila kita masih belum mendapatkan pasangan juga, jangan menghakimi Alloh dengan,” belum jodoh kita,” karena bisa jadi ada yang tidak beres pada diri kita.

Lantas apakah kalo sudah jodoh berarti kebetulan atau takdir ? Apakah sebenarnya kebetulan itu ada. Apa kita bisa merubah takdir ? Takdir sama gak sama nasib ? Kalau nasib bisa diubah, mengapa Alloh sudah menetapkan sebelumnya ? Kebetulan itu tidak ada di dunia ini karena semua telah diatur oleh Alloh. Takdir itu berbeda dengan nasib. Takdir kita adalah ketetapan Alloh. Tugas kita adalah mengolah segala sesuatu yang Alloh berikan atau titipkan kepada kita.

Dan ingat, bukankah dengan segera berkeluarga juga mendapat ridho Alloh dan berpahala. Ibadah itu bukannya hanya Sholat, Puasa, Zakat, Haji saja. Dengan berkeluarga juga termasuk ibadah. Ayat Al Quran saja yang mengatur tentang keluarga sekitar 159 ayat, sedangkan Hadist sekitar 3000-an. Bandingkan dengan ayat tentang perintah Sholat ? Justru sangat sedikit bukan. Betapa Alloh memporsikan keluarga ini begitu besarnya, karena disitu pahalanya banyak dan besar.

Islam tidak semata-mata menganggap bahwa pernikahan merupakan sarana yang sah dalam pembentukan keluarga, bahwa pernikahan bukanlah semata sarana terhormat untuk mendapatkan anak yang sholeh, bukan semata cara untuk mengekang penglihatan, memelihara farji atau hendak menyalurkan biologis, atau semata menyalurkan naluri saja. Sekali lagi bukan alasan tersebut di atas. Akan tetapi lebih dari itu Islam memandang bahwa pernikahan sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemayarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi ummat Islam.

Alloh menginginkan kita untuk berusaha. Ada empat hal yang dapat mengubah nasib kita, yaitu: berusaha, berdoa, berbaik sangka kepada Alloh, dan tawakal. Kalo kita sudah berusaha mendekati-nya, dengan cara-cara yang baik dan Alloh ridho, tetapi Alloh berkehendak lain. Itu lain soal, baru kita serahkan kepada Alloh. Semoga kita disegerakan mendapat jodoh yang kita inginkan dan terbaik. Aamiin. Itu saja.

 

Ilustrasi : by google

Categories: Keindahan Islam Tags: ,

Manusia sebagai Khalifah

24 December 2010 Leave a comment

Sebelum membahas tema dari Khutbah Jumat tadi siang. Sekedar mengingatkan apasih keistimewaan hari Jumat dan kenapa kita sebagai muslim khususnya laki-laki diwajibkan Sholat Jumat. Hari Jumat adalah hari penting bagi kaum muslim, dibandingkan dengan hari-hari yang lainnya. Mari simak hadits Rasululloh SAW berikut. “Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, pada hari itulah diciptakan Nabi Adam, dan pada hari itu dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula beliau diwafatkan, dan pada hari itu pula terjadi kiamat. Pada hari itu ada saat yang kalau seorang muslim menemuinya kemudian sholat dan memohon segala keperluannya kepada Alloh, niscaya akan dikabulkan.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai).

Pada hari Jumat pula dilakukan Jum’atan, ibadah khusus seminggu sekali yang wajib diikuti oleh kaum lelaki muslim. Tentu saja ada dalilnya mengapa ibadah Jum’atan ini wajib dilakukan, yakni :

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (QS Al Jumu’ah (62) : 9)

“Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan sholat Jumat atau kalau tidak, Alloh akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.”            (HR. Muslim).

“Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) sholat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan sholat Jum’at.” (HR. Muslim)

“Sholat Jumat itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu  hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.”  (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Dengan demikian, nyatalah bahwa ibadah Jum’atan adalah kewajiban bagi kaum muslim terutama laki-laki yang sudah baligh, sehat, dan bermukim (tidak sedang bepergian). Dan apa jadinya jika kita dengan sengaja meninggalkan Sholat Jumat, pastilah berdosa.

Berikut ulasan singkat, oleh-oleh Jumatan kali ini,

Alloh menciptakan langit tanpa tiang serta semua bintang yg menghiasi dan Alloh turunkan dari air hujan dan tumbuh dengan segala jenis tumbuh-tumbuhan. Bumi terhampar sangat luas segala jenis makhluk bertempat tinggal diatasnya, berbagai kenikmatan dikandungnya dan tiap orang dengan mudah bepergian ke mana yang dia inginkan. Binatang ada dengan berbagai jenis bentuk dan warnanya. Tumbuh-tumbuhan dengan segala jenis dan buah-buahan dgn segala rasa dan warnanya. Laut yang sangat luas dan segala rizki yg ada di dalamnya, semua mengingatkan kita kepada kebesaran Alloh dan ke-Maha Agungan-Nya.

Kita meyakini bahwa Alloh menciptakan semua itu memiliki tujuan dan tidak ada yang sia-sia. Maka dari itu mari kita berlaku jujur pada diri kita dan di hadapan Alloh bahwa kita juga diciptakan oleh Alloh tidak sia-sia dalam arti kita diciptakan memiliki tujuan tertentu yg mungkin berbeda dengan yang lainnya.

Banyak sekali dalam Al Quran yang menerangkan tentang ini, salah satunya,

“Maka apakah kalian mengira bahwa sesungguh Kami menciptakan kalian secara main-main dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS Al Mu’minun (23) :115)

Manusia dengan segala nikmat yang diberikan Alloh SWT memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan makhluk yang lain. Tentu hal ini menunjukkan bahwa mereka diciptakan untuk satu tujuan yang mulia agung dan besar. Tujuan inilah yang telah disebutkan oleh Alloh SWT di dalam Al Qur’an :

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan utk menyembah-Ku.”  (QS Adz Dzaariyaat  (51) : 56)

Semua nikmat yang diberikan oleh Alloh kepada manusia tidak lain hanya untuk membantu mereka dalam mewujudkan tugas dan tujuan yang mulia ini. Alloh SWT menciptakan alam semesta dan menentukan fungsi-fungsi dari  setiap elemen alam ini. Mata hari punya fungsi, bumi punya fungsi, udara punya fungsi, begitulah seterusnya; bintang-bintang, awan, api, air, tumbuh-tumbuhan dan seterusnya hingga makhluk yang paling kecil masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan. Lantas apa sebenarnya fungsi manusia dalam pentas kehidupan ini? Apakah sama fungsinya dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan? atau mempunyai fungsi yang lebih istimewa ?

Agama Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki dua golongan, yaitu sebagai hamba Alloh (abdullah) dan sebagai wakil Alloh (khalifatullah) di muka bumi. Sebagai hamba Alloh, manusia adalah kecil dan tak memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. Tetapi sebagai khalifatullah, manusia diberi fungsi sangat besar, karena Alloh Maha Besar maka manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat besar.

Sebagai khalifah, tentu manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia Karena alam semesta memang diciptakan Alloh untuk manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia juga diberi otoritas ketuhanan seperti menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk menghukum mati manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Alloh, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia. Disamping berpotensial juga untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.

 

Ilustrasi : by google

Categories: Hikmah Jum'at

Ucapan Hari Raya pada non Muslim, bolehkah ??

19 December 2010 Leave a comment

 

Tulisan ini bermula dari tergelitiknya hati saya menerima kritikan pedas dari orang Non Muslim yang sedang merayakan hari besarnya. Masalahnya sederhana karena saya tidak mengucapkan selamat hari raya kepadanya, sebagaimana seperti orang tersebut mengucapkan Selamat Idul Fitri kepada saya. Mungkin sedikit klarifikasi, dapat menjernihkan masalah. Ya, karena saya lupa dan dikalender pun tidak merah seperti biasa jika ada hari besar agama. Saya pun beraktifitas seperti biasa tanpa libur, sehingga lupa mengucapkannya. Tapi ya sudahlah..

Pada kesempatan ini juga, coba saya uraikan boleh tidaknya seorang Muslim mengucapkan selamat hari raya kepada Non Muslim yang sedang merayakan hari rayanya. Semoga uraian singkat saya ini bisa menjawab masalah itu. Karena ini masalah ini berhubungan dengan agama, tidak etis rasanya jika saya tidak mencantumkan sumber atau rujukannya. Karena pengetahuan saya sendiri tentang ini sangatlah terbatas, maklum bukan ustadz, hanya seseorang yang ingin terus belajar memahami agamanya dengan benar yaitu Islam.

Materi ini hemat saya perlu disampaikan sehingga ada kejelasan. Pemberian ucapan selamat merayakan hari besar Non Muslim disebut tahni’ah. Untuk masalah ini sebenarnya ulama juga berbeda pandangan, ada yang tegas-tegas mengharamkan dan ada juga yang memperbolehkan dengan alasan-alasan tertentu pula. Mari kita lihat pandangan yang mengharamkan terlebih dahulu :

Pandangan yang mengharamkan

Ibn al-Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya ‘Ahkâm Ahl adz-Dzimmah’, beliau berkata, “Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Alasan Ibn al-Qayyim, menyatakan haram ucapan selamat kepada orang-orang Kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan.

Sikap ini juga sama pernah disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin sebagaimana dikutip dalam Majmû’ Fatâwa Fadlîlah asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, ( Jilid.III, h.44-46, No.403).

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin sebagaimana dikutip dalam ’Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/28-29, no. 404, Asy Syamilah’ mengatakan, ”Ucapan selamat hari natal atau ucapan selamat lainnya yang berkaitan dengan agama kepada orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama.”

Jangankan mengucapkan Selamat Natal ataupun ucapan hari besar agama lain, mengucapkan salam biasa saja kepada Non Muslim kita dilarang : Rasulullah SAW bersabda: ”Jangan kalian mendahului mengucapkan salam kepada orang Yahudi atau Nashrani” (HR. Muslim).

Apabila orang Non Muslim memulai mengucapkan salam, maka jawaban yang diperkenankan oleh syari’at adalah : ”Wa ‘alaikum” (Semoga anda juga). Itu saja, tidak usah diperpanjang lagi. Rasulullah SAW menasihatkan : ”Jika orang-orang Ahli Kitab (Non Muslim) memberi salam kepada kamu, maka jawablah : ”Wa ‘alaikum” (HR. Bukhari dan Muslim).

Salam adalah do’a seorang Muslim kepada saudaranya seiman. Kita tidak bisa mengucapkan doa Selamat kepada orang yang kafir/musyrik karena jika mereka tak tobat, siksa Alloh sudah jelas menunggu mereka.

”Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (Al Qashash [28]: 56).

Terus, berarti kita sebagai Muslim tidak boleh mendoakan Non Muslim dong ?

Tentu boleh, satu-satunya doa yang diperbolehkan untuk orang kafir yang masih hidup adalah doa agar mereka dapat petunjuk untuk masuk Islam. Misalnya Do’a Rasulullah SAW kepada orang Non Muslim : ”Ya Alloh berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka orang yang tidak mengerti” (Sirah Nabawiyah, Abul Hasan ali An Nadwi). Atau do’a Rasululah SAW kepada Umar Bin Khaththab ketika masih kafir : ”Ya Alloh, berilah kemuliaan kepada Islam dengan masuk Islamnya salah satu orang terkasih kepada-Mu, yakni Abu Jahal atau Umar Bin Khaththab”

Pandangan yang membolehkan

Memang pendapat yang membolehkan ini kurang populer di banyak kalangan. Namun kalau kita mau agak teliti dan jujur, rupanya yang menghalalkan tidak sedikit. Bukan hanya Dr. Quraisy Syihab saja, tetapi bahkan Majelis Ulama Indonesia, Dr. Yusuf Al-Qaradawi dan beberapa ulama dunia lainnya, ternyata kita dapati pendapat mereka membolehkan ucapan itu.

Rasanya agak kaget juga, tetapi itulah yang kita dapat begitu kita agak jauh menelitinya. Kami uraikan di sini petikan-petikan pendapat mereka, bukan dengan tujuan ingin mengubah pandangan yang sudah ada. Tetapi sekedar memberikan tambahan wawasan kepada kita, agar kita punya referensi yang lebih lengkap.

Fatwa MUI Tentang Haramnya Natal Bersama, Bukan Ucapan Selamat Natal

Satu yang perlu dicermati adalah kenyataan bahwa MUI tidak pernah berfatwa yang mengharamkan ucapan selamat natal. Yang ada hanyalah fatwa haramnya melakukan natal bersama.

Majelis Ulama Indonesia pada 7 Maret 1981, sebagaimana ditandatangani K.H. M. Syukri Ghozali, MUI telah mengeluarkan fatwa: perayaan natal bersama bagi ummat Islam adalah haram. Hal ini juga ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal MUI, Dr. Dien Syamsudin MA, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu menyatakan bahwa MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut sakramen/ritual Natal. “Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam, ” katanya. Bahkan pernah di hadapan ratusan umat Kristiani dalam seminar Wawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim di Surabaya, beliau menyampaikan, “Saya tiap tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristiani.”

Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi

Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama. Selama tidak merugikan agama lain. Dan termasuk hak tiap agama untuk memberikan tahni’ah saat perayaan agama lainnya.

Maka kami sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk memberikan tahni’ah kepada Non Muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang baik).

Sebagaimana firman Alloh SWT:

“Alloh tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah : ’8)

Kebolehan memberikan tahni’ah ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan tahni’ah kepada kami dalam perayaan hari raya kami.

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Alloh memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86)

Namun Syeikh Yusuf Al-Qaradawi secara tegas mengatakan bahwa tidak halal bagi seorang Muslim untuk ikut dalam ritual dan perayaan agama yang khusus milik agama lain.

Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’

Di dalam bank fatwa situs Islamonline.com, Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’, menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang Muslim mengucapkan tahni’ah kepada orang kafir. Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang dianut jenazah tersebut. Sehingga menurut beliau, ucapan tahni’ah kepada saudara-saudara pemeluk kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, juga tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang Muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama. Dan beliau juga memfatwakan bahwa karena ucapan tahni’ah ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan natalnya.

Namun beliau menyatakan bahwa ucapan tahni’ah ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan-perayaan natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.

Majelis Fatwa dan Riset Eropa

Majelis Fatwa dan Riset Eropajuga berpendapat yang sama dengan fatwa Dr. Ahmad Zarqa’ dalam hal kebolehan mengucapkan tahni’ah, karena tidak adanya dalil langsung yang mengharamkannya.

Fatwa Dr. Abdussattar Fathullah Said

Dr. Abdussattar Fathullah Said adalah profesor bidang tafsir dan ulumul quran di Universitas Al-Azhar Mesir. Dalam masalah tahni’ah ini beliau agak berhati-hati dan memilahnya menjadi dua. Ada tahni’ah yang halal dan ada yang haram.

Tahni’ah yang halal adalah tahni’ah kepada orang kafir tanpa kandungan hal-hal yang bertentangan dengan syariah. Hukumnya halal menurut beliau. Bahkan termasuk ke dalam bab husnul akhlaq yang diperintahkan kepada umat Islam.

Sedangkan tahni’ah yang haram adalah tahni’ah kepada orang kafir yang mengandung unsur bertentangan dengan masalah diniyah, hukumnya haram. Misalnya ucapan tahniah itu berbunyi, “Semoga Tuhan memberkati diri anda sekeluarga.” Sedangkan ucapan yang halal seperti, “Semoga tuhan memberi petunjuk dan hidayah-Nya kepada Anda.”

Bahkan beliau membolehkan memberi hadiah kepada Non Muslim, asalkan hadiah yang halal, bukan khamar, gambar maksiat atau apapun yang diharamkan Alloh.

 

Secara pribadi saya lebih cenderung membolehkan mengucapkan selamat hari raya kepada Non Muslim, dengan alasan bahwa saya ingin menghargai keyakinan orang yang merayakan itu, sebab saya juga selalu mengapresiasi setiap orang yang menghargai keyakinan saya. Islam adalah agama yang membawa rahmat buat semua alam, yang artinya tidak satu apapun yang tidak berhak untuk mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, dan kasih sayang dengan adanya Islam. Bahwa benar ada beberapa ulama yang melarang untuk mengucapkan selamat hari raya pada umat agama lain karena dianggap menunjukkan sikap menyetujui pemahaman agama lain itu, dimana sikap persetujuan tersebut selanjutnya dapat dikategorikan sebagai bentuk degradasi iman atau dianggap sebagai perbuatan yang merusak iman.

Buat saya, ucapan selamat sama sekali bukanlah bentuk persetujuan dan pembenaran saya terhadap pemahaman agama lain. Hanya sebagai wujud menghormati keyakinan yang berbeda dengan saya mengingat lingkungan pekerjaan yang tidak semuanya Muslim. Bukankah Alloh SWT sendiri juga menganjurkan kita untuk dapat saling menghormati termasuk kepada orang yang memiliki perbedaan pemahaman dan keyakinan dengan kita.

Namun kalaulah sikap ini pada akhirnya tetap dianggap sebagai suatu bentuk penyimpangan yang berbuah dosa, maka buat saya biarlah Alloh saja yang akan menilainya dan saya hanya dapat berharap pada kasih sayang dan ampunan-Nya yang Maha Agung dan tiada berhingga. Itu saja..

 

Ilustrasi : by google

 

Referensi:


http://masopik.wordpress.com/2008/12/01/all-about-islam/ atau http://www.sendspace.com/file/588jtb

http://media-islam.or.id/2010/12/14/haram-hukumnya-mengucapkan-selamat-natal/

http://formmit.org/about-islam/232-mengucapkan-selamat-natal-dan-hari-raya-agama-lain.html

http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Qardhawi/Halal/2011833.html

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2359&Itemid=0

http://solekha.multiply.com/reviews/item/112

http://m.voa-islam.com/news/hikmah/2009/12/24/2154/haram-mengucapkan-selamat-natal

http://suprichusnul.multiply.com/journal/item/448

http://buletin.Muslim.or.id/aqidah/mengucapkan-selamat-natal-dianggap-berbuat-baik

http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/fatwa-ulama/bolehkah-mengucapkan-selamat-hari-raya-pada-non-muslim/

http://Muslim.or.id/manhaj/selamat-natal.html

http://genenetto.blogspot.com/2006/12/hukum-mengucapkan-selamat-natal.html

Categories: Keindahan Islam

Hijrah : The great emigration

17 December 2010 Leave a comment

Seperti biasa, oleh-oleh Jumat dibagi. Memangnya oleh-oleh apa ? Tentu saja oleh-oleh hikmah setelah mendengar khotbah Jumat tadi siang. Tidak bermaksud apa-apa hanya sekedar meneruskan apa yang saya dengar tadi. Masjid yang saya tuju untuk melaksanakan sholat Jumat adalah Masjid dekat Bandara Ngurah Rai, kalo tidak salah nama masjid itu “Masjid Nurul Huda”. Jam 12.00 saya meluncur dari proyek menuju masjid itu, dan membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit untuk sampai kesana. Berharap sih tidak terlambat karena masuk Dhuhur jam 12.15, dan alhamdulillah nyampe tepat waktu.

Pemilihan masjid itu, tidak lain adalah karena masjidnya lumayan besar untuk wilayah Bali dan terdekat dari proyek, jadi mungkin lebih nyaman saja. Baik, nampaknya langsung saja menyimak untaian khotbah Jumat tadi yang temanya adalah hijrah.

Hijrah adalah meninggalkan segala bentuk perbuatan yang dilarang Allah SWT dengan menjalankan segala yang diperintahkan-Nya.

Selasa (7/12) yang lalu, seluruh umat Islam di berbagai penjuru dunia, memperingati tahun baru Islam, 1 Muharram 1432 H. Momentum pergantian tahun Hijriah selalu mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Peristiwa maha penting dalam sirah Rasulullah itulah yang menjadi dasar pijakan di balik pemilihan nama kalender Islam tersebut

Seperti diketahui, sebelum berhijrah, Nabi Muhammad SAW dan umat Islam yang berada di Kota Makkah mendapatkan berbagai ujian dan cobaan yang tak henti-hentinya. Ujian itu datang dari Allah (setelah wafatnya paman Nabi SAW, Abu Thalib, dan istri Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid) diiringi gangguan kaum kafir Quraisy.

Nabi Muhammad SAW sedang bersedih. Orang-orang kafir Quraisy pun mengolok-oloknya, “Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.” Begitulah ungkapan orang-orang kafir menyinggung diri Rasulullah sepeninggal Abu Thalib (paman) dan Siti Khadijah RA (istri). Ia kesepian. Hatinya terasa kering karena beberapa lama wahyu baru yang ditunggu tidak kunjung datang. Dalam keguncangan jiwa itu, turunlah surah Ad-Dhuha. Di ayat ke-5 dalam surah itu, Allah berfirman, “Kelak, Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Apa yang dijanjikan Allah dalam surah Ad-Dhuha tercapai beberapa tahun setelah hijrah. Tepatnya, tahun ke-10 Hijriah. Rasulullah berhasil merebut Makkah, kota yang sangat beliau cintai karena kesuciannya.

Adapun tujuan berhijrah dalam konteks hijrah Rasulullah SAW adalah untuk menyelamatkan akidah umat Islam dari gangguan dan ancaman kafir Quraisy yang semakin besar terhadap umat Islam. Hijrah dalam Pandangan Al-Quran, secara global, tujuan hijrah adalah senantiasa meninggalkan segala yang dilarang Allah dengan berpindah untuk melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya menuju jalan kebajikan dan kemaslahatan. “Seorang muhajir (yang berhijrah) adalah siapa saja yang meninggalkan segala yang dilarang Allah.”

Adapun hijrah secara maknawi, “Segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya, aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Janganlah kamu mengadakan Tuhan selain Allah. Sesungguhnya, aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.”

Sementara itu, makna hijrah secara hakiki adalah hijrah atau pindah dengan sepenuh hati semata-mata untuk Allah dan Rasul-Nya. Yakni, meninggalkan segala kemaksiatan menuju jalan kemaslahatan.

Hijrah berarti berpindah dengan meninggalkan suatu tempat menuju tempat yang lain, atau berubah dengan meninggalkan suatu kondisi untuk menuju kondisi yang lain. Dalam Islam, hijrah memang ada dua macam.

Pertama, hijrah hissiyyah (hijrah fisik dengan berpindah tempat), dari darul khauf (negeri yang tidak aman dan tidak kondusif) menuju darul amn (negeri yang relatif aman dan kondusif), seperti hijrah dari Kota Makkah ke Habasyah (Ethiopia) dan dari Makkah ke Madinah.

Kedua, hijrah ma’nawiyyah (hijrah nilai). Maksudnya meninggalkan nilai-nilai atau kondisi-kondisi jahiliah untuk berubah menuju nilai-nilai atau kondisi-kondisi Islami,  seperti dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, pemikiran dan pola pikir, muamalah, pergaulan, cara hidup, kehidupan berkeluarga, etos kerja, manajemen diri, manajemen waktu, manajemen dakwah, perjuangan, pengorbanan, serta aspek-aspek diri dan kehidupan lainnya sesuai dengan tuntutan keimanan dan konsekuensi keislaman.

Jika hijrah hissiyyah bersifat kondisional dan situasional serta harus sesuai dengan syarat-syarat tertentu, hijrah ma’nawiyyah bersifat mutlak dan permanen, serta sekaligus merupakan syarat dan landasan bagi pelaksanaan hijrah hissiyyah.

Hijrah ma’nawiyyah inilah yang sebenarnya merupakan hakikat dan esensi dari perintah hijrah itu. Kuncinya ada pada kata perubahan! Ya, ketika seseorang telah berikrar syahadat dan menyatakan diri telah beriman dan berislam, ia harus langsung ber-hijrah ma’nawiyyah ke arah perubahan total–tentu tetap mengikuti prinsip pentahapan dan memenuhi tuntutan berislam secara kaffah.

Lantas sudahkah kita berhijrah ???

 

Ilustrasi : by google

Categories: Hikmah Jum'at
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.