Archive

Archive for the ‘Hikmah Jum’at’ Category

Evaluasi Untuk Introspeksi Diri

7 January 2011 Leave a comment

Jumat hari ini tanggal 2 Shafar 1432 H atau 7 Januari 2011. Seperti biasa, sebagai seorang muslim melakukan sholat Jumat yang memang diwajibkan bagi orang laki-laki. Waktu Sholat Dzuhur di Bali 12.15 Wita, saat itu pula berlangsung Sholat Jumat yang dimulai dengan 2 kali Khutbah Jumat. Materi yang dibawakan kali ini adalah catatan akhir tahun bagi seorang muslim, target tahun sebelumnya apakah terlampaui atau malah tidak tercapai sesuai target yang diinginkan ! Yuk, kita evaluasi diri selama satu tahun ini, apakah targetnya tercapai atau malah sebaliknya gagal.

Evaluasi diri dalam menjalani kehidupan di dunia ini adalah sangat penting. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan-Nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi, perencanaan,, strategi,, pelaksanaan dan evaluasi. Rasulullah bersabda, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’

Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian. Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’

Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah SAW juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.

Umar r.a. mengemukakan:

‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.

Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:

‘Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.

Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]. Banyak dikalangan orang islam lebih mengutamakan perbedaannya, bukannya urgensi atau target yang dicapainya dengan melakukan ibadah-ibadah tersebut. Salah satunya Seperti meributkan jumlah bilangan rakaatnya, ketimbang tujuan dari Sholat itu sendiri yaitu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Itulah sebabnya implikasi dari Sholat kita, tidak membekas pada perbuatan sehari-hari. Sebenarnya bukan itu, urgensi dari masing-masing ibadah. Bukankah tujuan ibadah itu adalah taqwa.

Setiap ibadah dalam Islam, apakah itu shalat, membayar zakat, melaksanakan puasa, dan menunaikan haji, memiliki dua demensi. Pertama, kegiatan ibadah dimaksudkan untuk memenuhi kewajiban atau penggilan Allah SWT, dalam rangka hablum minallah. Kedua, ibadah yang dilakukan oleh hamba Allah itu memiliki implikasi sosial. Dimensi kedua ini menyaran pada implikasi hablum minallah terhadap hablum minannas.

Dalam dimensi kewajiban, ibadah shalat (lima waktu), membayar zakat, menjalankan puasa, dan menunaikan haji merupakan ibadah yang wajib hukumnya (fardlu ‘ain); artinya setiap muslim wajib melaksanakan ibadah-ibadah itu, kecuali haji, ibadah haji wajib hukumnya bagi seorang muslim yang mampu untuk menunaikannya.

Dalam ajaran Islam, ibadah shalat merupakan ibadah yang sangat penting. Karena sangat pentingnya shalat, maka shalat dipandang sebagai tiang agama. Shalat, digariskan sebagai ibadah yang mampu mencegah umat muslim dari perbuatan keji dan munkar, memiliki dimensi sosial, antara lain, mendidik umat manusia untuk berlaku demokratis. Sewaktu melaksanakan ibadah shalat berjamaah di mushalla atau masjid, antar kaum muslimin tidak ada perbedaan; tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, bawahan dan atasan, kaum elit dan rakyat biasa dan sebagainya. Seseorang yang paling awal datang ke mushalla atau masjid untuk shalat berjamaah, dia memiliki hak untuk menempatkan diri pada barisan terdepan. Implikasi sosial lebih lanjut bisa dilihat bila seorang muslim kembali ke tengah-tengah masyarakat, dia akan mendahulukan atau memperhatikan hak orang lain ketimbang hak yang dimilikinya. Ini berarti bahwa dia tidak akan merasa menang sendiri, dia tidak akan merasa pintar sendiri, dia tidak akan merasa benar sendiri, tidak melakukan korupsi dan manipulasi, karena dua perbuatan ini mengarah kepada pengambilan sesuatu yang bukan menjadi haknya, dan sebagainya.

Demikian pula, ibadah puasa juga mendidik kaum muslimin untuk tidak berburuk sangka, tidak melakukan pembedaan (discrimination), dan sejenisnya terhadap sesama umat manusia. Hal ini didasarkan pada salah satu unsur puasa adalah menahan lapar dan dahaga. Perasaan lapar dan dahaga merupakan masalah keseharian yang dihadapi oleh orang-orang miskin, namun bukan menjadi masalah bagi orang-orang berada. Pada tataran tertentu, seseorang yang berasal dari kelompok orang berada akan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya yang berada di bawah garis kemiskinan, yaitu perasaan lapar dan dahaga. Hal ini, sebenarnya, mengajarkan pada umat manusia untuk tidak berpurbasangka, melakukan diskriminasi atau pembedaan terhadap sesama umat.

Implikasi sosial yang dipancarkan oleh ibadah zakat bisa timbul dari hikmah ibadah puasa. Seperti diketehui dan dirasakan bahwa setiap orang yang berpuasa pasti mengalami rasa lapar dan dahaga. Dengan mengalami sendiri bagaimana rasanya lapar dan dahaga sewaktu berpuasa itu, maka orang-orang dari kalangan kaya terlatih untuk merasakan derita lapar dan dahaga sebagaimana yang dialami oleh golongan fakir-miskin dalam hidup keseharian mereka. Ajaran ini diharapkan dapat menimbulkan rasa belas kasihan dan sifat penyantun si kaya terhadap si miskin. Pada waktu-waktu selepas puasa, diharapkan bahwa si kaya atas kemauannya sendiri akan selalu mengulurkan tangan, memberikan pertolongan dan bantuan baik secara material maupun non-material. Bantuan-bantuan itu bisa berupa infak, sedekah dan zakat (materi) dan nasihat, dorongan moril dan sejenisnya (non-materi). Dalam kehidupan bernegara, ajaran ini menggariskan kepada para pemegang kekuasaan untuk mengarahkan segala kebijakan (ekonomi, politik, dan sosial budaya, dan sebagainya) demi kepentingan orang banyak, khususnya orang miskin, bukan demi kepentingan untuk mencari popularitas dalam rangka mempertahankan kekuasaan mereka.

Implikasi sosial yang terpancar dalam ibadah haji, antara lain, adalah terciptanya persaudaraan sesama umat Islam dari seluruh pelosok dunia dan sekaligus merupakan syiar Islam yang luar biasa. Setiap musim haji tiba, sejumlah besar umat Islam yang berasal dari seluruh penjuru dunia berbondong-bondong ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Momen ibadah haji ini bisa dimanfaatkan sebagai syiar Islam dan sekaligus sebagai sarana untuk menjalin persaudaraan sesama muslim sedunia. Usai menunaikan ibadah haji, seorang muslim dapat memanfaatkan momen ibadah yang telah dilaksanakan itu sebagai titik tolak untuk mengembangkan tali persaudaraannya dengan sesama umat muslim, dengan umat sebangsa di tanah airnya secara lebih baik.

Jadi hendaknya menyikapi akhir tahun ini bukannya berhura-hura, tetapi introspeksi diri. Apakah target kita tercapai ? Apakh ibadah kita makin baik atau malah sebaliknya ? Kita bisa evaluasi, kalo kita memiliki target-target yang akan dicapai. Termasuk orang yang beruntung jika bisa melawati sasaran target-target tersebut. Ataukah malah sebaliknya, malah termasuk orang yang merugi karena gagal. Dan ingatlah bahwa, Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara ; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi).

So, yuk introspeksi lagi diri kita !

Categories: Hikmah Jum'at Tags: ,

Manusia sebagai Khalifah

24 December 2010 Leave a comment

Sebelum membahas tema dari Khutbah Jumat tadi siang. Sekedar mengingatkan apasih keistimewaan hari Jumat dan kenapa kita sebagai muslim khususnya laki-laki diwajibkan Sholat Jumat. Hari Jumat adalah hari penting bagi kaum muslim, dibandingkan dengan hari-hari yang lainnya. Mari simak hadits Rasululloh SAW berikut. “Sebaik-baik hari adalah hari Jum’at, pada hari itulah diciptakan Nabi Adam, dan pada hari itu dia diturunkan ke bumi, pada hari itu pula diterima taubatnya, pada hari itu pula beliau diwafatkan, dan pada hari itu pula terjadi kiamat. Pada hari itu ada saat yang kalau seorang muslim menemuinya kemudian sholat dan memohon segala keperluannya kepada Alloh, niscaya akan dikabulkan.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai).

Pada hari Jumat pula dilakukan Jum’atan, ibadah khusus seminggu sekali yang wajib diikuti oleh kaum lelaki muslim. Tentu saja ada dalilnya mengapa ibadah Jum’atan ini wajib dilakukan, yakni :

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (QS Al Jumu’ah (62) : 9)

“Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan sholat Jumat atau kalau tidak, Alloh akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.”            (HR. Muslim).

“Sungguh aku berniat menyuruh seseorang (menjadi imam) sholat bersama-sama yang lain, kemudian aku akan membakar rumah orang-orang yang meninggalkan sholat Jum’at.” (HR. Muslim)

“Sholat Jumat itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu  hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.”  (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Dengan demikian, nyatalah bahwa ibadah Jum’atan adalah kewajiban bagi kaum muslim terutama laki-laki yang sudah baligh, sehat, dan bermukim (tidak sedang bepergian). Dan apa jadinya jika kita dengan sengaja meninggalkan Sholat Jumat, pastilah berdosa.

Berikut ulasan singkat, oleh-oleh Jumatan kali ini,

Alloh menciptakan langit tanpa tiang serta semua bintang yg menghiasi dan Alloh turunkan dari air hujan dan tumbuh dengan segala jenis tumbuh-tumbuhan. Bumi terhampar sangat luas segala jenis makhluk bertempat tinggal diatasnya, berbagai kenikmatan dikandungnya dan tiap orang dengan mudah bepergian ke mana yang dia inginkan. Binatang ada dengan berbagai jenis bentuk dan warnanya. Tumbuh-tumbuhan dengan segala jenis dan buah-buahan dgn segala rasa dan warnanya. Laut yang sangat luas dan segala rizki yg ada di dalamnya, semua mengingatkan kita kepada kebesaran Alloh dan ke-Maha Agungan-Nya.

Kita meyakini bahwa Alloh menciptakan semua itu memiliki tujuan dan tidak ada yang sia-sia. Maka dari itu mari kita berlaku jujur pada diri kita dan di hadapan Alloh bahwa kita juga diciptakan oleh Alloh tidak sia-sia dalam arti kita diciptakan memiliki tujuan tertentu yg mungkin berbeda dengan yang lainnya.

Banyak sekali dalam Al Quran yang menerangkan tentang ini, salah satunya,

“Maka apakah kalian mengira bahwa sesungguh Kami menciptakan kalian secara main-main dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS Al Mu’minun (23) :115)

Manusia dengan segala nikmat yang diberikan Alloh SWT memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan makhluk yang lain. Tentu hal ini menunjukkan bahwa mereka diciptakan untuk satu tujuan yang mulia agung dan besar. Tujuan inilah yang telah disebutkan oleh Alloh SWT di dalam Al Qur’an :

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan utk menyembah-Ku.”  (QS Adz Dzaariyaat  (51) : 56)

Semua nikmat yang diberikan oleh Alloh kepada manusia tidak lain hanya untuk membantu mereka dalam mewujudkan tugas dan tujuan yang mulia ini. Alloh SWT menciptakan alam semesta dan menentukan fungsi-fungsi dari  setiap elemen alam ini. Mata hari punya fungsi, bumi punya fungsi, udara punya fungsi, begitulah seterusnya; bintang-bintang, awan, api, air, tumbuh-tumbuhan dan seterusnya hingga makhluk yang paling kecil masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan. Lantas apa sebenarnya fungsi manusia dalam pentas kehidupan ini? Apakah sama fungsinya dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan? atau mempunyai fungsi yang lebih istimewa ?

Agama Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki dua golongan, yaitu sebagai hamba Alloh (abdullah) dan sebagai wakil Alloh (khalifatullah) di muka bumi. Sebagai hamba Alloh, manusia adalah kecil dan tak memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. Tetapi sebagai khalifatullah, manusia diberi fungsi sangat besar, karena Alloh Maha Besar maka manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat besar.

Sebagai khalifah, tentu manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia Karena alam semesta memang diciptakan Alloh untuk manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia juga diberi otoritas ketuhanan seperti menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk menghukum mati manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Alloh, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia. Disamping berpotensial juga untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.

 

Ilustrasi : by google

Categories: Hikmah Jum'at

Hijrah : The great emigration

17 December 2010 Leave a comment

Seperti biasa, oleh-oleh Jumat dibagi. Memangnya oleh-oleh apa ? Tentu saja oleh-oleh hikmah setelah mendengar khotbah Jumat tadi siang. Tidak bermaksud apa-apa hanya sekedar meneruskan apa yang saya dengar tadi. Masjid yang saya tuju untuk melaksanakan sholat Jumat adalah Masjid dekat Bandara Ngurah Rai, kalo tidak salah nama masjid itu “Masjid Nurul Huda”. Jam 12.00 saya meluncur dari proyek menuju masjid itu, dan membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit untuk sampai kesana. Berharap sih tidak terlambat karena masuk Dhuhur jam 12.15, dan alhamdulillah nyampe tepat waktu.

Pemilihan masjid itu, tidak lain adalah karena masjidnya lumayan besar untuk wilayah Bali dan terdekat dari proyek, jadi mungkin lebih nyaman saja. Baik, nampaknya langsung saja menyimak untaian khotbah Jumat tadi yang temanya adalah hijrah.

Hijrah adalah meninggalkan segala bentuk perbuatan yang dilarang Allah SWT dengan menjalankan segala yang diperintahkan-Nya.

Selasa (7/12) yang lalu, seluruh umat Islam di berbagai penjuru dunia, memperingati tahun baru Islam, 1 Muharram 1432 H. Momentum pergantian tahun Hijriah selalu mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Peristiwa maha penting dalam sirah Rasulullah itulah yang menjadi dasar pijakan di balik pemilihan nama kalender Islam tersebut

Seperti diketahui, sebelum berhijrah, Nabi Muhammad SAW dan umat Islam yang berada di Kota Makkah mendapatkan berbagai ujian dan cobaan yang tak henti-hentinya. Ujian itu datang dari Allah (setelah wafatnya paman Nabi SAW, Abu Thalib, dan istri Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid) diiringi gangguan kaum kafir Quraisy.

Nabi Muhammad SAW sedang bersedih. Orang-orang kafir Quraisy pun mengolok-oloknya, “Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.” Begitulah ungkapan orang-orang kafir menyinggung diri Rasulullah sepeninggal Abu Thalib (paman) dan Siti Khadijah RA (istri). Ia kesepian. Hatinya terasa kering karena beberapa lama wahyu baru yang ditunggu tidak kunjung datang. Dalam keguncangan jiwa itu, turunlah surah Ad-Dhuha. Di ayat ke-5 dalam surah itu, Allah berfirman, “Kelak, Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Apa yang dijanjikan Allah dalam surah Ad-Dhuha tercapai beberapa tahun setelah hijrah. Tepatnya, tahun ke-10 Hijriah. Rasulullah berhasil merebut Makkah, kota yang sangat beliau cintai karena kesuciannya.

Adapun tujuan berhijrah dalam konteks hijrah Rasulullah SAW adalah untuk menyelamatkan akidah umat Islam dari gangguan dan ancaman kafir Quraisy yang semakin besar terhadap umat Islam. Hijrah dalam Pandangan Al-Quran, secara global, tujuan hijrah adalah senantiasa meninggalkan segala yang dilarang Allah dengan berpindah untuk melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya menuju jalan kebajikan dan kemaslahatan. “Seorang muhajir (yang berhijrah) adalah siapa saja yang meninggalkan segala yang dilarang Allah.”

Adapun hijrah secara maknawi, “Segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya, aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Janganlah kamu mengadakan Tuhan selain Allah. Sesungguhnya, aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.”

Sementara itu, makna hijrah secara hakiki adalah hijrah atau pindah dengan sepenuh hati semata-mata untuk Allah dan Rasul-Nya. Yakni, meninggalkan segala kemaksiatan menuju jalan kemaslahatan.

Hijrah berarti berpindah dengan meninggalkan suatu tempat menuju tempat yang lain, atau berubah dengan meninggalkan suatu kondisi untuk menuju kondisi yang lain. Dalam Islam, hijrah memang ada dua macam.

Pertama, hijrah hissiyyah (hijrah fisik dengan berpindah tempat), dari darul khauf (negeri yang tidak aman dan tidak kondusif) menuju darul amn (negeri yang relatif aman dan kondusif), seperti hijrah dari Kota Makkah ke Habasyah (Ethiopia) dan dari Makkah ke Madinah.

Kedua, hijrah ma’nawiyyah (hijrah nilai). Maksudnya meninggalkan nilai-nilai atau kondisi-kondisi jahiliah untuk berubah menuju nilai-nilai atau kondisi-kondisi Islami,  seperti dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, pemikiran dan pola pikir, muamalah, pergaulan, cara hidup, kehidupan berkeluarga, etos kerja, manajemen diri, manajemen waktu, manajemen dakwah, perjuangan, pengorbanan, serta aspek-aspek diri dan kehidupan lainnya sesuai dengan tuntutan keimanan dan konsekuensi keislaman.

Jika hijrah hissiyyah bersifat kondisional dan situasional serta harus sesuai dengan syarat-syarat tertentu, hijrah ma’nawiyyah bersifat mutlak dan permanen, serta sekaligus merupakan syarat dan landasan bagi pelaksanaan hijrah hissiyyah.

Hijrah ma’nawiyyah inilah yang sebenarnya merupakan hakikat dan esensi dari perintah hijrah itu. Kuncinya ada pada kata perubahan! Ya, ketika seseorang telah berikrar syahadat dan menyatakan diri telah beriman dan berislam, ia harus langsung ber-hijrah ma’nawiyyah ke arah perubahan total–tentu tetap mengikuti prinsip pentahapan dan memenuhi tuntutan berislam secara kaffah.

Lantas sudahkah kita berhijrah ???

 

Ilustrasi : by google

Categories: Hikmah Jum'at

Memperlakukan Jenazah Menurut Islam

11 December 2010 Leave a comment

Seperti biasanya, saya melakukan sholat Jumat di salah satu masjid di Bali, tepatnya saat itu tanggal 10 Desember 2010. Ada yang istimewa menurut saya karena hari Jumat tersebut adalah hari Jumat pertama di tahun baru Hijriah, ya 1432 H dan hari ke-dua setelah saya ulang tahun.

Sekedar shearing saja, inilah hasil oleh-oleh dari Sholat Jumat itu, semoga bermanfaat !

Ketika Roh Telah Meninggalkan Jasad

Ketika seseorang telah menghembuskan napasnya yang terakhir maka ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang-orang yang hadir pada saat itu :

1.         Memejamkan kedua mata mayit (jika masih terbuka) dan mendoakan kebaikan baginya

Dasarnya ialah hadits Ummu Salamah, tatkala Abu Salamah wafat maka Rasulullah pun memejamkan kedua matanya yang saat itu masih terbuka. Beliau juga mendoakannya dengan doa “Ya Alloh, berilah ampunan bagi Abu Salamah, angkatlah derajatnya ke dalam orang-orang yang diberi petunjuk, jadikanlah orang yang ia tinggalkan dari kalangan keluarganya dan anak keturunannya pemimpin yang sholih dalam agama dan dunia mereka, ampunilah kami dan dia ya Robbal’alamin, lapangkanlah dan terangilah kuburannya”  (HR muslim dan Abu Daud)

2.         Menutup semua anggota badannya (kecuali jenajah orang yang ihram, kepalanya tidak ditutup) dengan kain atau yang semisalnya

Aisyah mengatakan : “Bahwasanya ketika Rasulullah wafat beliau pun diselimuti dengan burdah habirah (kain yang bergaris-garis)”. (HR Bukhari dan Muslim)

3.      Bersegera dalam mengurusinya

4.      Bersegera melunasi hutang mayit walau harus menghabiskan semua hartanya

5.      Memenuhi wasiatnya

Orang yang diwasiati oleh si mayit semasa hidupnya, hendaknya menunaikan wasiat yang telah diamanahkan itu, selama wasiat tersebut tidak menyelisihi syariat. Dalam masalah harta, wasiat yang diperbolehkan tidak melebihi sepertiga dari harta yang ia miliki.

Apa Saja Yang Boleh Dilakukan Terhadap Mayit

Dibolehkan bagi para pelayat untuk membuka tutup muka mayit dan menciumnya (wajah)-nya, sebagaimana hadits yang dibawakan oleh Aisyah, ia berkata : Bahwasanya Rasulullah SAW mendatangi jenazah Utsman bin Madz’un maka beliau menyingkap tutup muka Ibnu Madz’un dan beliau merebahkan badan lalu mencium wajahnya, beliau menangis hingga aku melihat air mata menetes pada kedua belah pipi beliau.” (Shahih, HR Ibnu Majah 1456, Abu Daud 3163 dan Tirmidzi 994).

Demikian pula dibolehkan menangis (bukan tangisan histeris yang terlarang dalam syariat) sebagaimana yang terjadi pada Rasulullah ketika putranya (Ibrahim) tercinta meninggal dunia (HR Bukhari)

Proses Memandikan Jenazah

Perkara-perkara yang harus diperhatikan ketika akan memandikan jenazah (sifat dan cara memandikan mayit) :

1.         Hendaknya orang yang akan memandikan mayit adalah orang yang amanah dan dapat dipercaya, yang tidak akan membuka dan menyebarkan aib-aib yang ia jumpai pada mayit. Dan hendaknya ia adalah orang yang memiliki ilmu dan pengalaman dalam memandikan mayit.

2.         Melepas pakaian mayit dan menutup auratnya

3.         Wajib yang akan memandikan mayit adalah orang yang sejenis, mayit wanita tidak dimandikan kecuali oleh para wanita dan mayit laki-laki tidaklah dimandikan kecuali oleh para laki-laki. Kecuali, suami istri dan budak (wanita) terhadap tuannya.

4.         Dibolehkan suami memandikan istrinya, demikian pula sebaliknya (Shahih HR. Ahmad)

5.         Jika mayit wanita dan rambutnya masih terpintal, maka dilepas terlebih dahulu (HR. Bukhari)

6.         Diharamkan mencukur rambut kepala dan bulu kemaluan karena akan memegang aurat si mayit dan tidak pula kumis, dikhitan atau memotong kukunya karena jasad mayit adalah dihormati maka tidak boleh diganggu. Dan tidak lah benar dari Rasulullah SAW dan para sahabat tentang perbuatan diatas.

7.         Memperlakukan mayit dengan lemah lembut (HR Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

8.         Menaruh daun bidara pada air ketika awal-awal pemandian (HR Bukhori dan Muslim)

9.         Hendaknya dimulai dari bagian kanan dan anggota wudhu, setelah didahului niat dan membaca basmalah (HR Bukhori dan Muslim)

10.      Membersihkan kepala secara baik dengan air dan daun bidara atau sabun dan yang semisalnya hingga mengenai dasar tempat tumbuhnya rambut serta menyisirnya dengan lemah lembut.

11.      Membersihkan bagian kanan badan, demikian pula pada bagian kiri

12.      Membolak balik sisi samping agar mudah membersihkan bagian tengkuk, punggung, dan bagian-bagian yang dianggap perlu untuk dibersihkan.

13.      Menyisir dan mengepang rambutnya menjadi tiga kepangan (jika mayit wanita) (HR Bukhori)

14.      Mengulang-ulang pembersihan dan penyiraman jika dianggap perlu, dan disunnahkan ganjil (HR Bukhori dan Muslim)

15.      Menambahkan kafur atau minyak wangi atau semisalnya pada siraman akhir

16.      Hendaknya tidak memegang kemaluan mayit kecuali jika kondisi mendesak

17.      Jika tidak ada air atau takut kalau dimandikan malah merusak tubuhnya (seperti mayit yang terbakar atau semisalnya) maka diganti dengan tayamum, sebab keadaan mendesak.

Demikian apa yang bisa saya sampaikan, semoga memberikan manfaat bagi semuanya..



Categories: Hikmah Jum'at
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.