Home > Civil Engeneering > Safety Breafing K3 Project

Safety Breafing K3 Project

 

Aktivitas pagi ini diproyek dimulai dengan safety breafing K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dengan tujuan mengingatkan tenaga akan pentingnya K3 tersebut sekaligus sosialisasi prosedur pelaksanaan K3. Safety breafing ini biasanya dilaksanakan setiap Jumat pagi jam 07.45 WITA di proyek. Sebelum dilaksanakan Safety breafing, terlebih dahulu melakukan olah raga ringan, senam lebih tepatnya. Merenggangkan otot dan melakukan sedikit gerakan, paling tidak menjaga kesehatan dan mengembalikan konsentrasi para pekerja dimana 1 minggu penuh mereka bekerja.

Meskipun setiap Jumat diadakan Safety breafing, tetap saja beberapa pekerja ada yang mangkir dan menyepelekan masalah ini. Padahal semuanya itu untuk kesehatan dan keselamatan pekerja itu sendiri. Mengingatkan akan pentingnya APD adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam pekerjaan-pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja. APD merupakan cara terakhir untuk melindungi tenaga kerja setelah dilakukan beberapa usaha. Jenis-jenis APD menurut bagian tubuh  antara lain : kepala, kaki, mata, alat pernafasan, muka, telinga, tangan dan jari-jari, serta tubuh. Penting memang, tapi mereka kadang malas memakainya. Disamping itu penggunaan APD yang bukan pada tempatnya. Misalnya helm yang tempatnya di kepala, kadang menjadi sedokan air, berserakan diareal proyek. Sepatu, kadang mereka tidak pakai. Malah seringnya memakai sandal., dan lain-lain. Alasan mereka dengan memakai perlengkapan diri, telah membatasi ruang gerak mereka. Mau gini susah, mau gitu repot..

Sebenarnya perlengkapan safety-nya sudah disediakan kontraktor, mereka tinggal memakai dan akhir proyek dikembalikan. Apalagi kalo mereka suruh beli semua perlengkapan wah bisa dibayangkan. Tapi susah banget ya ? Mungkin karena tingkat pendidikan mereka dan kebiasaan yang mereka lakukan sehingga terasa “biasa” dan tak heran jika mereka “enggan” melakukannya. Namun kita sadar bahwa masalah K3 ini tidak dibiarkan. Kita berusaha agar proyek ini zero accident. Tidak ada masalah yang fatal yang akan berakibat merugikan kita semua.

Mereka harus sadar bahwa pelaksanaan sebuah proyek konstruksi bangunan mempunyai potensi kecelakaan kerja yang c ukup tinggi. Mau ga mau dalam perkembangannya, program Kesehatan dan Keselamatan Kerja ( K3 ) yang dilaksanakan dalam upaya pencegahan terjadinya kecelakaan kerja dalam pelaksanaannya semakin lama semakin dibutuhkan. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 mengatur aturan, kebijakan mengenai K3 ini.

Sementara, jumlah kecelakaan kerja pada sebuah proyek konstruksi seperti luput dari perhatian. Walaupun analisa kecelakaan kerja secara nasional menunjukkan jumlah kecelakaan kerja atas dasar laporan kecelakaan dan kompensasinya menunjukkan angka yang rendah. Tetapi hal ini belum benar-benar menggembirakan, karena dibalik laporan tersebut masih terdapat kelemahan pelaporan dan pencatatan kecelakaan yang perlu disempurnakan.

Mungkin beberapa instansi punya catatan data tentang kejadian kecelakaan kerja ini seperti BPS (Badan Pusat Statistik) dan Jamsostek. Data-data ini biasanya berdasarkan hasil klaim yang diajukan oleh pihak developer, kontraktor dimana data ini tidak semua orang bisa mengaksesnya karena data ini tentu saja bukan untuk umum.

Salah satu dilema lain pada penerapan K3 di Indonesia adalah rendahnya pengetahuan dan penerapan program kesehatan dan keselamatan kerja di sebuah proyek konstruksi bangunan. Resiko atau bahaya di sebuah proyek konstruksi bangunan kepada pekerja perlu mendapat perhatian lebih dan serius dari semua pihak. Sebagai langkah dalam penyempurnaan program kesehatan dan keselamatan kerja di proyek konstruksi bangunan, sebuah identifikasi pada resiko atau potensi terjadinya kecelakaan kerja pada pelaksanaan jenis pekerjaan di proyek konstruksi bangunan pun perlu dilakukan.

Tentu, dengan identifikasi resiko atau potensi terjadinya kecelakaan kerja ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan pihak yang terlibat dalam sebuah proyek konstruksi bangunan dalam melaksanakan sebuah jenis pekerjaan yang mempunyai potensi kecelakaan kerja yang tinggi. Sehingga pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja bisa semakin disempurnakan.

Masih rendahnya pekerja tentang K3, merupakan faktor pemicu dan penentu terjadinya kecelakaan. Kecelakaan dalam kamus bahasa Indonesia adalah sebuah kejadian yang tak terduga yang mempunyai kemungkinan yang bisa menyebabkan cederanya seseorang atau kerusakan property. Kecelakaan kerja pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi bangunan antara lain adalah : kejatuhan benda, tergelincir, terpukul, terkena benda tajam, dan jatuh dari ketinggian. Berdasarkan data statistik Jamsostek dalam kasus yang ditemui selama ini, kecelakaan kerja banyak dialami tenaga kerja usia 26 hingga 30 tahun. Untuk 2009 misalnya, terdapat 22.338 kasus dari total 96.314 kasus di tahun 2009 atau sebesar 23,19 persen. Kecelakaan kerja paling banyak terjadi di dalam lokasi/lingkungan kerja Persisnya sebanyak 65.568 kasus dari 96. 314 total kasus selama 2009 atau sebesar 68.07 persen.

Konstruksi bangunan adalah kegiatan yang berhubungan dengan seluruh tahapan yang dilakukan di tempat kerja. Pekerjaan konstruksi bangunan melibatkan banyak hal diantaranya adalah bahan bangunan, pesawat/instalasi/peralatan, tenaga kerja, dan penerapan teknologi. Semua hal tersebut dapat merupakan sumber kecelakaan kerja yang bahkan dapat mengakibatkan kematian dan/atau kerugian material.

Dengan banyaknya potensi bahaya dan kecelakaan kerja yang terjadi pada sektor konstruksi bangunan, maka diperlukan adanya suatu perlindungan kepada tenaga kerja dan asset-aset maupun orang lain di proyek/tempat kerja khususnya konstruksi bangunan agar incident maupun accident dapat diminimalisir. Perlindungan yang dapat diberikan dapat berupa penegakan aturan yang telah ditetapkan baik dari perusahaan (Standard Operational Procedure) maupun dari pemerintah (Permenakertrans) itu sendiri.

Tidak hanya semata-semata menjadi tugas pemerintah dan perusahaan tersebut untuk menjaga dan melindungi pekerja. Namun dari diri sendirilah harusnya kesadaran itu muncul, ingatlah bahwa dengan sehat dan selamatnya kita dalam proyek ini, sudah membantu dan meringankan semua pihak, bukankah adanya aturan itu untuk ditepati dan bukannya dilanggar. Selalu berhati-hati dalam bekerja dan ingatlah keluarga anda menunggu dirumah.

Categories: Civil Engeneering
  1. Mas TY
    28 April 2011 at 4:51 am

    melihat foto-fotonya (& kenyataan di lapangan – yang sering saya lihat), aku salut, para pekerjanya berani-berani…
    g pake APD lengkap pun berani bekerja…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: