Home > Alam Semesta > Hujan lagi …

Hujan lagi …

 

Hujan lagi, hujan lagi, itulah kata yang sering kita lontarkan manakala hujan tiba. Kita itu terkadang aneh ya, saat kemarau, kering pengin sekali agar segera diturunkan hujan, tidak sedikit pula yang melaksanakan Sholat Istisqo (Sholat minta hujan). Dan ketika hujan, malah banjir. Sepertinya bumi ini tidak sanggup lagi menampung air hujan. Mungkin karena keserakahan manusia, yang tidak menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya yang mengakibatkan terjadinya banjir. Banyaknya lahan yang sudah berubah fungsi, memicu terjadinya banjir dimana-mana.

Masuknya musim penghujan itu adalah bulan Oktober – Maret. Maka pantaslah dibulan ini, Desember musim hujan, hampir disetiap kawasan di Indonesia. Hal ini bisa dilihat pada beberapa Berita di TV yang menampilkan prakiraan Cuaca, semuanya hujan. Sudah waktunya hujan, jadi jangan disalahkan kalo tiba-tiba hujan, mau hujan pagi, siang, ataupun malam, ya suka-suka hujan dong. Terkadang kitanya saja, yang menempatkannya terlalu berlebihan. Memang tidak dipungkiri, karena datangnya hujan yang secara tiba-tiba sehingga kira merasa resah, galau, marah berbagai alasanpun dilontarkan, seperti mana cucian belum kering, waktunya berangkat ke kantor, kendaraan udah kinclong, dan sebagainya.

Namun nampaknya ada pergeseran musim penghujan, sekarang setiap bulan hampir sepenuhnya hujan. Salah satu penyebabnya adalah efek rumah kaca. Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer menyebabkan pemanasan global. Pemanasan global akan diikuti dengan perubahan iklim, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan mengalami musim kering yang berkepanjangan disebabkan kenaikan suhu ini. Masalah efek rumah kaca dan permasalahan yang ditimbulkannya, akan saya bahas dilain waktu.

Membahas tentang hujan, saya teringat kembali saat kuliah dulu di Bogor Agriculture University (IPB). Loh ko, harusnya UPB dong, bukan IPB ? Bukankah I disitu harusnya Institute, kenapa jadi University. Mungkin karena cabang ilmu yang diajarkan sudah banyak dan complex, mulai dari manajemen, ilmu pertaniannya dan sebagainya. Dan setahu saya, Institut hanya untuk satu bidang ilmu saja. Ya, tentu itu alasan perkiraan saya saja. Lebih jelasnya, silakan tanyakan sendiri yah ke IPB-nya.

Yuk kita bahas tentang hujan, apasih yang menyebabkan ?


Hujan adalah peristiwa turunnya air dari langit ke bumi. Awalnya air hujan berasal dari air dari bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air rumpon, air sawah, air comberan, air susu, air jamban, air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Selain air yang berbentuk fisik, air yang menguap ke udara juga bisa berasal dari tubuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, serta benda-benda lain yang mengandung air.

Air-air tersebut umumnya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan panas matahari. Air yang menguap / menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain. Di langit yang tinggi uap tersebut mengalami proses pemadatan atau kondensasi sehingga membentuk awan. Dengan bantuan angin awan-awan tersebut dapat bergerak kesana-kemari baik vertikal, horizontal dan diagonal.

Akibat angin atau udara yang bergerak pula awan-awah saling bertemu dan membesar menuju langit / atmosfir bumi yang suhunya rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena berat dan tidak mampu ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi (proses presipitasi). Karena semakin rendah suhu udara semakin tinggi maka es atau salju yang terbentuk mencair menjadi air, namun jika suhunya sangat rendah maka akan turun tetap sebagai salju.

Hujan tidak hanya turun berbentuk air dan es saja, namun juga bisa berbentuk embun dan kabut. Hujan yang jatuh ke permukaan bumi jika bertemu dengan udara yang kering, sebagian hujan dapat menguap kembali ke udara. Bentuk air hujan kecil adalah hampir bulat, sedangkan yang besar lebih ceper seperti burger, dan yang lebih besar lagi berbentuk payung terjun. Hujan besar memiliki kecepatan jatuhnya air yang tinggi sehingga terkadang terasa sakit jika mengenai anggota badan kita.


Hujan yang berlebih pada suatu lokasi dapat menimbulkan bencana pada kehidupan di bawahnya. Banjir dan tanah longsor adalah salah satu akibat dari hujan yang berlebihan. Perubahan iklim di bumi akhir-akhir ini juga mendukung persebaran hujan yang tidak merata sehingga menimbulkan berbagai masalah di bumi. Untuk itu kita sudah semestinya membantu menormalkan iklim yang berubah akibat ulah manusia agar anak cucu kita kelak tidak menderita dan terbunuh akibat kesalahan yang kita lakukan saat ini.

Masalahnya sekarang, kapan ya hujan ini berhenti. Ko, malah makin besar. Gak bisa ngapa-ngapain nih, ya sudahlah mending tarik sarung lagi dan tidur..😦

Categories: Alam Semesta
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: