Home > Keindahan Islam > Jodohku Siapa Yaa ?

Jodohku Siapa Yaa ?

 

Tulisan ini berawal dari ketertarikan saya untuk mengomentari status facebook dari teman saya kala itu. Ada beberapa kalimat yang mengganggu dan mungkin sedikit perlu saya luruskan. Sekali lagi tidak bermaksud apa-apa, hanya sekedar mengemukakan pendapat saya tentang isi dari status tersebut dan bukan pula atas kesombongan pengetahuan yang saya miliki, Karena sesungguhnya setiap ilmu datangnya dari Alloh, manusia tempatnya salah dan lupa, begitupun saya yang tidak luput dari salah. Seandainya ada pihak yang merasa dirugikan, saya mohon maaf, bukan maksud saya untuk itu. Ini hanya sekedar shearing saja..

“Sahabat, hidup ini bukan hanya untuk jodoh dan kawin, sudahlah… jangan terlalu banyak menyia-nyiakan waktu mengejar yang belum pasti menjadi jodoh kita dan banyak bersedih hanya untuk urusan jodoh dan kawin…., dst”

Memang bukan, tapi apakah salah kalo menginginkan seseorang untuk menjadi jodoh kita ? Dalam Islam adalah fitrah bagi makhluk Alloh untuk saling menyukai. Ketertarikan itu adalah fitrah manusia. Hanya saja kita perlu berhati-hati dalam memiliki ketertarikan terhadap seseorang. Salah-salah bisa menjadi penyakit hati dan membawa kita kearah yang tidak diridhoi Alloh. Kita sebagai makhluk Alloh tentu harus mengikuti syariat Alloh. Pendekatan yang disyariatkan Islam adalah taaruf. Taaruf untuk menikah.

Kadang selama ini kita sering kali menganggap jodoh adalah sebuah misteri. Artinya jodoh adalah sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh manusia. Hanya Alloh yang mengetahui hal tersebut. Anggapan orang-orang bilang bahwa jodoh adalah misteri adalah terindikasikan bahwa jodoh sesuatu yang telah Alloh tentukan untuk kemudian disembunyikan dari hambanya, sehingga jodoh tetap menjadi misteri. Tetapi benarkah jodoh itu misteri ? Apakah jodoh adalah sesuatu yang telah ditetapkan dan diatur oleh Alloh? Lantas, apakah tidak ada kebebasan bagi manusia untuk memilih jodoh untuk dirinya sendiri.

Memang menikah adalah suatu hal yang sunnah yang perlu dilaksanakan. Tapi bagaimana kalau seseorang belum mapan tapi ada keinginan untuk menikah, baginya menikah bukan sebuah permainan. Karena dalam suatu pernikahan tersimpan suatu yang sakral untuk kita hormati. Untuk itulah biasanya terkadang kita tidak mau terburu-buru. Bukankah nanti jodoh akan datang dengan sendirinya, Alloh yang akan memberi jalan-Nya dalam setiap ikhtiar kita.

Namun demikian, ada hukum kehidupan yang kita kenal dan barangkali kita juga pernah mendengan pepatah ini “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.” Artinya untuk memperoleh pasangan hidup bukankah harus ada proses interaksi terlebih dahulu. Jadi sangatlah tidak mungkin kalau seorang berdiam diri saja dirumah. Tanpa berinteraksi atau bermuamalah dengan siapa pun tak akan memperoleh pasangan.

Oleh karena itu menurut saya, jodoh kita berada di tempat dimana kita berada dengan tingkat intensitas yang tinggi. Misalnya, apabila kita sering “nongkrong” di Cafe, kita akan memperoleh jodoh kita ada ditempat dimana kita “nongkrong” tersebut. Seperti ungkapan yang sering kita dengar, “Kalau kita bergaul dengan tukang minyak wangi, kita akan kecipratan wanginya. Begitu juga kalau kita bergaul dengan seorang pembunuh tentunya kita akan kecipratan darahnya pula”. Terserah kita menyikapi ungkapan itu seperti apa. Hampir sama ketika menentukan jodoh! Kalau ingin mendapatkan wanita sholeha, ya kita harus banyak pergi ke Majlis Taklim, atau tempat-tempat yang baik, bukannya ke bar maupun ke pub. Bukankah begitu ?

Jadi jodoh bukanlah sebuah misteri, karena pada dasarnya kita dapat mengetahui siapa yang kira-kira akan menjadi jodoh kita. Lalu bagaimana dengan orang yang sudah menikah dan kemudian cerai, apakah itu bukan jodoh ? Janganlah kita katakan,” bukan jodoh,” atas hal tersebut. Sesungguhnya hal itu merupaka kegagalannya dalam mengelola hubungan dengan seseorang, dimana seseorang masih mengedepankan ego-nya masing-masing. Terus bagaimana dengan yang belum dapat pasangan? Hal itu bukankah berarti Alloh belum memberikan atau memilih seseorang untuk kita. Dan apabila kita masih belum mendapatkan pasangan juga, jangan menghakimi Alloh dengan,” belum jodoh kita,” karena bisa jadi ada yang tidak beres pada diri kita.

Lantas apakah kalo sudah jodoh berarti kebetulan atau takdir ? Apakah sebenarnya kebetulan itu ada. Apa kita bisa merubah takdir ? Takdir sama gak sama nasib ? Kalau nasib bisa diubah, mengapa Alloh sudah menetapkan sebelumnya ? Kebetulan itu tidak ada di dunia ini karena semua telah diatur oleh Alloh. Takdir itu berbeda dengan nasib. Takdir kita adalah ketetapan Alloh. Tugas kita adalah mengolah segala sesuatu yang Alloh berikan atau titipkan kepada kita.

Dan ingat, bukankah dengan segera berkeluarga juga mendapat ridho Alloh dan berpahala. Ibadah itu bukannya hanya Sholat, Puasa, Zakat, Haji saja. Dengan berkeluarga juga termasuk ibadah. Ayat Al Quran saja yang mengatur tentang keluarga sekitar 159 ayat, sedangkan Hadist sekitar 3000-an. Bandingkan dengan ayat tentang perintah Sholat ? Justru sangat sedikit bukan. Betapa Alloh memporsikan keluarga ini begitu besarnya, karena disitu pahalanya banyak dan besar.

Islam tidak semata-mata menganggap bahwa pernikahan merupakan sarana yang sah dalam pembentukan keluarga, bahwa pernikahan bukanlah semata sarana terhormat untuk mendapatkan anak yang sholeh, bukan semata cara untuk mengekang penglihatan, memelihara farji atau hendak menyalurkan biologis, atau semata menyalurkan naluri saja. Sekali lagi bukan alasan tersebut di atas. Akan tetapi lebih dari itu Islam memandang bahwa pernikahan sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemayarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi ummat Islam.

Alloh menginginkan kita untuk berusaha. Ada empat hal yang dapat mengubah nasib kita, yaitu: berusaha, berdoa, berbaik sangka kepada Alloh, dan tawakal. Kalo kita sudah berusaha mendekati-nya, dengan cara-cara yang baik dan Alloh ridho, tetapi Alloh berkehendak lain. Itu lain soal, baru kita serahkan kepada Alloh. Semoga kita disegerakan mendapat jodoh yang kita inginkan dan terbaik. Aamiin. Itu saja.

 

Ilustrasi : by google

Categories: Keindahan Islam Tags: ,
  1. 25 March 2011 at 12:21 pm

    Kedudukan Perkawinan dalam Islam
    • Wajib kepada orang yang mempunyai nafsu yang kuat sehingga bias menjerumuskannya ke lembah maksiat (zina dan sebagainya) sedangkan ia seorang yang mampu.disini mampu bermaksud ia mampu membayar mahar(mas berkahminan/dower) dan mampu nafkah kepada calon isterinya.
    • Sunat kepada orang yang mampu tetapi dapat mengawal nafsunya.
    • Harus kepada orang yang tidak ada padanya larangan untuk berkahwin dan ini merupakan hukum asal perkawinan
    • Makruh kepada orang yang tidak berkemampuan dari segi nafkah batin dan lahir tetapi sekadar tidak memberi kemudaratan kepada isteri.
    • Haram kepada orang yang tidak berkempuan untuk memberi nafkah batin dan lahir dan ia sendiri tidak berkuasa (lemah), tidak punya keinginan menikah serta akan menganiaya isteri jika dia menikah.

    dengan hal tersebut di atas, maka saya mohon dengan segala hormat, bahwa perlu adanya pendalaman kembali pendapat saudara tentang…”Memang menikah adalah suatu hal yang sunnah yang perlu dilaksanakan”. Tapi yang lainnya dapat cukup memberikan ilmu buat saya. Makasih …..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: