Home > Alam Semesta > Gempa Menghampiri Bali

Gempa Menghampiri Bali

Gempa …. gempa… gempa ! itulah teriakan sebagian orang ketika terjadi gempa kemarin, tepatnya Kamis 13 Oktober 2011. Kala itu saya sedang ada meeting kecil-kecilan di  reception SPA depan pool. Perkiraan saya mungkin jam 11 an WITA. Sedang serius meeting, tiba-tiba terasa ada yang bergetar. Goncangan pertama yang terasa tidak terlalu besar, namun getaran ke dua cukup besar. Getaran inilah yang membuat semua orang berhamburan keluar, tenaga kerja yang di lantai 2, berlarian turun kebawah, menyelamatkan diri  kearah lapangan terbuka. Tidak sedikit pula yang menelepon keluarganya, sekedar memastikan aman tidak, getaran gempa terasa tidak. Hmmm …. Keadaan yang menegangkan sekaligus panik… Konon lebih dari 10 kali terjadi getaran gempa, tetapi saya sendiri merasakan hanya 3 getaran. Karena memang selama tanah belum stabil pasti masih ada getaran sesudah gempa besar.

Saya kemudian mencari info terkait gempa ini, searching lewat blackberry  tentunya (bukan iklan lhooo). Lumayan cukup lama mencari, karena memang belum langsung update. Akhirnya saya menemukan informasi dari VIVAnews dan berikut informasi yang disampaikan :

VIVAnews  – Gempa berkekuatan 6,8 skala richter mengguncang Pulau Dewata. Gempa besar itu berpusat dikedalaman 10 km dari permukaan laut.

Informasi yang dilansir Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa gempa berkekuatan 6,8 SR terjadi sekitar pukul 10.16 WIB di Nusa Dua, Bali, Kamis 13 Oktober 2011. Episentrum gempa diketahui berada dilokasi 9.89 Lintang Selatan dan 114.53 Bujur Timur. Pusat gempa berada pada jarak 143 kilometer arah Barat Daya, Nusa Dua, Bali.

Oh… ternyata benar, pusatnya dekat lagi di Nusa Dua. Ya meskipun gak deket-deket amat karena proyek saya ada di Sanur. Proyek saya sendiri relative masih aman, tetapi memang ada retakan dinding dibeberapa room dan lantai kayu di SPA sedikit terangkat. Karena memang gerakan gempanya bergetar secara horizontal dan vertical. Sekedar bercerita sedikit tentang gempa, boleh ya ! Ketika terjadi gempa bumi, maka pertama-tama yang merasakan getaran adalah tanah disekeliling pusat gempa. Getaran akibat gempa kemudian disebarkan kesegala penjuru sampai pada ke lokasi pencatat gempa di permukaan tanah. Selama getaran menjalar dari pusat gempa sampai kepermukaan tanah, maka faktor tanah sebagai penghantar getaran mempunyai peran yang sangat penting.

Untuk mempelajari perilaku gerakan tanah, perlu diketahui tentang karakteristik statik dan dinamik lapisan tanah tempat gelombang gempa merambat. Semua karakter tersebut akan berpengaruh pada gerakan tanah dan respon struktur/bangunan di atas permukaan tanah. Karakteristik Statik, secara umum tanah dibedakan menjadi tanah berpasir (kohesi c = 0) dan tanah lempung murni. Karena pasir tidak mempunyai kohesi, maka pada saat terjadi gempa, butir-butir pasir dapat memadat ataupun bahkan mengembang dengan mudah seperti pada peristiwa liquefaction, yaitu peristiwa hilangnya gesekan antar butir akibat meningkatnya tekanan air pori sebagai akibat goncangan gempa.

Karena tanah pasir bersifat kasar maka tahanan geser tanah pasir bertambah sehingga akan menambah pula sudut gesek dalamnya. Faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap kuat geser tanah pasir adalah : ukuran butir, air yang terdapat di dalam butiran, kekerasan butiran, angka pori atau kekakuan relatif, distribusi ukuran butir, dan bentuk butiran. Sedangkan yang paling besar pengaruhnya adalah angka pori, karena angka pori akan berpengaruh terhadap kerapatannya. Pada pengujian geser langsung maupun triaksial, bila angka pori rendah atau kerapatan relatif tinggi, maka nilai kuat geser akan tinggi pula. Jika dua macam tanah pasir mempunyai kerapatan relatif sama, tetapi gradasinya berlainan, maka pasir yang mempunyai gradasi lebih baik akan mempunyai sudut gesek dalam yang lebih besar. Ukuran butiran pasir dengan angka pori yang sama, tidak banyak berpengaruh pada sudut gesek dalamnya. Jadi pasir halus dan pasir kasar pada angka pori yang sama akan mempunyai sudut gesek yang sama.

Tanah lempung umumnya terdiri atas butir-butir yang sangat halus dari jenis mineral yang mempunyai nilai kohesi. Sifat kohesi ini adalah suatu nilai interaksi antara mineral-mineral penyusun lempung dengan air. Interaksi tersebut akan terjadi lekatan/rekatan antara butir yang satu dengan butir yang lain. Peristiwa inilah yang menyebabkan lempung mempunyai nilai kohesi tertentu. Yang perlu diperhatikan adalah  prinsip ductility suatu bangunan yaitu kemampuan sebuah struktur untuk berubah bentuk sambil tetap bisa menahan beban yang harus ditahan dan mengurangi pengaruh goncangan pada saat gempa dan setelahnya). Materi ini saya hapal betul karena skripsi saya tidak jauh dari membahas tanah (sembari mengingat-ingat kembali…)

Secara umum kerusakan yang terjadi akibat gempa beraneka ragam, hal ini sangat tergantung pada skala kekuatan gempa itu sendiri.

Pertama, kegagalan pada soft story effect, yaitu menunjuk pada kondisi keruntuhan gedung yang biasanya terjadi pada gedung berlantai lebih dari satu. Bangunan yang di lantai bawah lebih lunak daripada lantai di atasnya, atau dapat dikatakan lantai di atas lebih keras atau kaku dibanding lantai di bawahnya.

Kedua, detail bangunan yang tidak tepat. Di dalam perencanaan bangunan tahan gempa, juga harus memahami filosofi keruntuhan sebuah bangunan, yakni kolom tidak boleh hancur lebih dulu dibandingkan balok. Namun kebanyakan keruntuhan pada kolom bangunan yang terjadi disebabkan sengkang kolom yang kecil dan kurang, serta bangunan menggunakan tulangan polos. Padahal menurut aturan SNI Beton 2002 disebutkan bahwa diameter minimum untuk tulangan sengkang (lateral) elemen kolom, khususnya dalam memikul beban gempa adalah 10 mm. Meskipun boleh polos namun sebaiknya ulir. Sedangkan untuk tulangan, mesti menggunakan tulangan ulir.

Ketiga, kerusakan pada dinding bata yang kebanyakan terjadi karena tidak adanya struktur yang cukup untuk menahan dinding terhadap arah lateral gempa. Meski pada beberapa bangunan lain dinding batanya sudah dikekang dengan baik, tapi ikatannya terhadap beton kurang begitu kuat sehingga batanya tidak mampu menahan energi gempa. Kerusakan inilah yang dialami sebagian proyek terlebih proyek yang sedang dikerjakan. Mungkin bukan bata yang retak tetapi masih sebatas pada plester aci yang sedikit retak, karena retakan akibat gempa dan retakan akibat metode pelaksanaan dapat dibedakan. Kita tahu bahwa biasanya retakan pada plester aci lebih disebabkan pada metode dan campuran yang dipakai .

Keempat, kerusakan terjadi pada mutu beton yang kurang baik. Dibeberapa bangunan, tulangannya masih terpasang dengan rapi, sengkang tidak terlepas, tulangan utama tidak berhamburan, tapi justru inti betonnya yang hancur lebur yang menandakan kualitas beton yang terpasang kurang baik.

Dari beberapa artikel yang pernah saya baca. Kerusakan akibat gempa ini dapat dibedakan menjadi beberapa kategori. Yaitu, kategori kerusakan ringan non struktur, kerusakan ringan struktur, kerusakan struktur tingkat sedang, kerusakan struktur tingkat berat, serta kerusakan tota. Dan semuanya digolongkan berdasarkan ciri-ciri kerusakannya.

Kerusakan ringan non struktur, terdapat retak halus pada plesteran dengan lebar celah lebih kecil dari 0,075 cm. Sedangkan pada kerusakan ringan struktur, adanya retak kecil pada dinding yang mencapai lebar celah 0,075 hingga 0,6 cm. Sementara itu pada kerusakan struktur tingkat sedang, terdapat retak besar dengan celah lebih besar dari 0,6 cm yang menyebar di beberapa tempat termasuk pada kolom dan balok. Di samping itu kemampuan struktur untuk memikul beban sudah berkurang sebagian, namun masih tetap layak huni. Sedangkan pada kerusakan struktur tingkat berat, apabila sekitar 50 persen struktur utama mengalami kerusakan. Dinding pemikul bebannya terbelah dan runtuh serta bangunan terpisah akibat kegagalan unsur-unsur pengikat. Terakhir pada kerusakan total, bangunan roboh seluruhnya atau lebih dari 65 persen serta sebagian besar komponen utama struktur rusak dan tak layak huni lagi.

Setelah mengetahui berbagai kerusakan bangunan akibat gempa, yang dapat kita usahakan adalah membuat kerusakan bangunan tersebut jadi seminimal mungkin. Seperti dengan pemilihan material bangunan yang ringan serta memperhatikan agar struktur pondasi, kolom, balok juga struktur atap menyatu dengan sambungan yang memadai saat membangun rumah, hotel dan bangunan tinggi lainnya.

Perlu juga diperhatikan adalah interior rumah dengan mempertimbangkan situasi setiap ruangan di dalam rumah. Seperti, benda apa saja yang mungkin bisa jatuh dan menimpa kita. Selain itu perlu mengatur barang-barang berat untuk ditempatkan di lantai. Untuk lemari sebaiknya diikat ke dinding dengan dipaku, skrup atau diberi siku, dan benda-benda yang mudah terbakar harus disimpan di tempat yang aman dan tidak mudah pecah. Jadi, jangan sesalkan gempanya, namun lakukan pencegahan dengan memperbaiki konstruksi bangunan yang kurang memenuhi syarat, baik itu dalam segi perencanaan maupun pada waktu pelaksanaan.

Alhamdulillah Ya Alloh, saya dan temen-temen semua baik dan sehat, proyek masih aman dan Bali juga aman meskipun dibeberapa tempat terjadi retakan. Semua kejadian adalah kehendakMu, hamba hanya bisa berdoa semoga selalu senantiasa dalam lindungan-Mu. Aamiin..

Categories: Alam Semesta
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: