Archive

Archive for the ‘Civil Engeneering’ Category

Safety Breafing K3 Project

23 December 2010 1 comment

 

Aktivitas pagi ini diproyek dimulai dengan safety breafing K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dengan tujuan mengingatkan tenaga akan pentingnya K3 tersebut sekaligus sosialisasi prosedur pelaksanaan K3. Safety breafing ini biasanya dilaksanakan setiap Jumat pagi jam 07.45 WITA di proyek. Sebelum dilaksanakan Safety breafing, terlebih dahulu melakukan olah raga ringan, senam lebih tepatnya. Merenggangkan otot dan melakukan sedikit gerakan, paling tidak menjaga kesehatan dan mengembalikan konsentrasi para pekerja dimana 1 minggu penuh mereka bekerja.

Meskipun setiap Jumat diadakan Safety breafing, tetap saja beberapa pekerja ada yang mangkir dan menyepelekan masalah ini. Padahal semuanya itu untuk kesehatan dan keselamatan pekerja itu sendiri. Mengingatkan akan pentingnya APD adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam pekerjaan-pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja. APD merupakan cara terakhir untuk melindungi tenaga kerja setelah dilakukan beberapa usaha. Jenis-jenis APD menurut bagian tubuh  antara lain : kepala, kaki, mata, alat pernafasan, muka, telinga, tangan dan jari-jari, serta tubuh. Penting memang, tapi mereka kadang malas memakainya. Disamping itu penggunaan APD yang bukan pada tempatnya. Misalnya helm yang tempatnya di kepala, kadang menjadi sedokan air, berserakan diareal proyek. Sepatu, kadang mereka tidak pakai. Malah seringnya memakai sandal., dan lain-lain. Alasan mereka dengan memakai perlengkapan diri, telah membatasi ruang gerak mereka. Mau gini susah, mau gitu repot..

Sebenarnya perlengkapan safety-nya sudah disediakan kontraktor, mereka tinggal memakai dan akhir proyek dikembalikan. Apalagi kalo mereka suruh beli semua perlengkapan wah bisa dibayangkan. Tapi susah banget ya ? Mungkin karena tingkat pendidikan mereka dan kebiasaan yang mereka lakukan sehingga terasa “biasa” dan tak heran jika mereka “enggan” melakukannya. Namun kita sadar bahwa masalah K3 ini tidak dibiarkan. Kita berusaha agar proyek ini zero accident. Tidak ada masalah yang fatal yang akan berakibat merugikan kita semua.

Mereka harus sadar bahwa pelaksanaan sebuah proyek konstruksi bangunan mempunyai potensi kecelakaan kerja yang c ukup tinggi. Mau ga mau dalam perkembangannya, program Kesehatan dan Keselamatan Kerja ( K3 ) yang dilaksanakan dalam upaya pencegahan terjadinya kecelakaan kerja dalam pelaksanaannya semakin lama semakin dibutuhkan. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 mengatur aturan, kebijakan mengenai K3 ini.

Sementara, jumlah kecelakaan kerja pada sebuah proyek konstruksi seperti luput dari perhatian. Walaupun analisa kecelakaan kerja secara nasional menunjukkan jumlah kecelakaan kerja atas dasar laporan kecelakaan dan kompensasinya menunjukkan angka yang rendah. Tetapi hal ini belum benar-benar menggembirakan, karena dibalik laporan tersebut masih terdapat kelemahan pelaporan dan pencatatan kecelakaan yang perlu disempurnakan.

Mungkin beberapa instansi punya catatan data tentang kejadian kecelakaan kerja ini seperti BPS (Badan Pusat Statistik) dan Jamsostek. Data-data ini biasanya berdasarkan hasil klaim yang diajukan oleh pihak developer, kontraktor dimana data ini tidak semua orang bisa mengaksesnya karena data ini tentu saja bukan untuk umum.

Salah satu dilema lain pada penerapan K3 di Indonesia adalah rendahnya pengetahuan dan penerapan program kesehatan dan keselamatan kerja di sebuah proyek konstruksi bangunan. Resiko atau bahaya di sebuah proyek konstruksi bangunan kepada pekerja perlu mendapat perhatian lebih dan serius dari semua pihak. Sebagai langkah dalam penyempurnaan program kesehatan dan keselamatan kerja di proyek konstruksi bangunan, sebuah identifikasi pada resiko atau potensi terjadinya kecelakaan kerja pada pelaksanaan jenis pekerjaan di proyek konstruksi bangunan pun perlu dilakukan.

Tentu, dengan identifikasi resiko atau potensi terjadinya kecelakaan kerja ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan pihak yang terlibat dalam sebuah proyek konstruksi bangunan dalam melaksanakan sebuah jenis pekerjaan yang mempunyai potensi kecelakaan kerja yang tinggi. Sehingga pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja bisa semakin disempurnakan.

Masih rendahnya pekerja tentang K3, merupakan faktor pemicu dan penentu terjadinya kecelakaan. Kecelakaan dalam kamus bahasa Indonesia adalah sebuah kejadian yang tak terduga yang mempunyai kemungkinan yang bisa menyebabkan cederanya seseorang atau kerusakan property. Kecelakaan kerja pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi bangunan antara lain adalah : kejatuhan benda, tergelincir, terpukul, terkena benda tajam, dan jatuh dari ketinggian. Berdasarkan data statistik Jamsostek dalam kasus yang ditemui selama ini, kecelakaan kerja banyak dialami tenaga kerja usia 26 hingga 30 tahun. Untuk 2009 misalnya, terdapat 22.338 kasus dari total 96.314 kasus di tahun 2009 atau sebesar 23,19 persen. Kecelakaan kerja paling banyak terjadi di dalam lokasi/lingkungan kerja Persisnya sebanyak 65.568 kasus dari 96. 314 total kasus selama 2009 atau sebesar 68.07 persen.

Konstruksi bangunan adalah kegiatan yang berhubungan dengan seluruh tahapan yang dilakukan di tempat kerja. Pekerjaan konstruksi bangunan melibatkan banyak hal diantaranya adalah bahan bangunan, pesawat/instalasi/peralatan, tenaga kerja, dan penerapan teknologi. Semua hal tersebut dapat merupakan sumber kecelakaan kerja yang bahkan dapat mengakibatkan kematian dan/atau kerugian material.

Dengan banyaknya potensi bahaya dan kecelakaan kerja yang terjadi pada sektor konstruksi bangunan, maka diperlukan adanya suatu perlindungan kepada tenaga kerja dan asset-aset maupun orang lain di proyek/tempat kerja khususnya konstruksi bangunan agar incident maupun accident dapat diminimalisir. Perlindungan yang dapat diberikan dapat berupa penegakan aturan yang telah ditetapkan baik dari perusahaan (Standard Operational Procedure) maupun dari pemerintah (Permenakertrans) itu sendiri.

Tidak hanya semata-semata menjadi tugas pemerintah dan perusahaan tersebut untuk menjaga dan melindungi pekerja. Namun dari diri sendirilah harusnya kesadaran itu muncul, ingatlah bahwa dengan sehat dan selamatnya kita dalam proyek ini, sudah membantu dan meringankan semua pihak, bukankah adanya aturan itu untuk ditepati dan bukannya dilanggar. Selalu berhati-hati dalam bekerja dan ingatlah keluarga anda menunggu dirumah.

Categories: Civil Engeneering

Peralatan Standar K3 Di Proyek

3 February 2009 22 comments

Anda masih stay tune on my blog, kalo memang demikian, saya haturkan terima kasih untuk itu. Uraian berikutnya tentang peralatan standar k3 di konstruksi masih dalam tulisan yang sama. Oke .. langsung saja.

Dalam bidang konstruksi, ada beberapa peralatan yang digunakan untuk melindungi seseorang dari kecelakaan ataupun bahaya yang kemungkinan bisa terjadi dalam proses konstruksi. Peralatan ini wajib digunakan oleh seseorang yang bekerja dalan suatu lingkungan konstruksi. Peralatan ini wajib digunakan oleh seseorang yang bekerja dalam suatu lingkungan konstruksi. Namun tidak banyak yang menyadari betapa pentingnya peralatan-peralatan ini untuk digunakan.

Kesehatan dan keselamatan kerja adalah dua hal yang sangat penting. Oleh karenanya, semua perusahaan konstraktor berkewajiban menyediakan semua keperluan peralatan/ perlengkapan perlindungan diri atau personal protective Equipment (PPE) untuk semua karyawan yang bekerja, yaitu :

1. Pakaian Kerja

pakaian-kerjaTujuan pemakaian pakaian kerja adalah melindungi badan manusia terhadap pengaruh-pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai badan. Megingat karakter lokasi proyek konstruksi yang pada umumnya mencerminkan kondisi yang keras maka selayakya pakaian kerja yang digunakan juga tidak sama dengan pakaian yang dikenakan oleh karyawan yang bekerja di kantor. Perusahaan yang mengerti betul masalah ini umumnya menyediakan sebanyak 3 pasang dalam setiap tahunnya.

2. Sepatu Kerja

sepatu-kerjaSepatu kerja (safety shoes) merupakan perlindungan terhadap kaki. Setiap pekerja konstruksi perlu memakai sepatu dengan sol yang tebal supaya bisa bebas berjalan dimana-mana tanpa terluka oleh benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari bagian bawah. Bagian muka sepatu harus cukup keras supaya kaki tidak terluka kalau tertimpa benda dari atas.


 

3. Kacamata Kerja

kaca-mata1Kacamata pengaman digunakan untuk melidungi mata dari debu kayu, batu, atau serpih besi yang beterbangan di tiup angin. Mengingat partikel-partikel debu berukuran sangat kecil yang terkadang tidak terlihat oleh mata. Oleh karenanya mata perlu diberikan perlindungan. Biasanya pekerjaan yang membutuhkan kacamata adalah mengelas.

4. Sarung Tangan

sarung-tanganSarung tanga sangat diperlukan untuk beberapa jenis pekerjaan. Tujuan utama penggunaan sarung tangan adalah melindungi tangan dari benda-benda keras dab tajam selama menjalankan kegiatannya. Salah satu kegiatan yang memerlukan sarung tangan adalah mengangkat besi tulangan, kayu. Pekerjaan yang sifatnya berulang seperti medorong gerobag cor secara terus-meerus dapat mengakibatkan lecet pada tangan yang bersentuhan dengan besi pada gerobag.

5. Helm

helmetHelm (helmet) sangat pentig digunakan sebagai pelindug kepala, dan sudah merupakan keharusan bagi setiap pekerja konstruksi untuk mengunakannya dengar benar sesuai peraturan. Helm ini diguakan untuk melindungi kepala dari bahaya yang berasal dari atas, misalnya saja ada barang, baik peralatan atau material konstruksi yang jatuh dari atas. Memang, sering kita lihat kedisiplinan para pekerja untuk menggunakannya masih rendah yang tentunya dapat membahayakan diri sendiri.

6. Sabuk Pengaman

sabuk-kerjaSudah selayaknya bagi pekerja yang melaksanakan kegiatannya pada ketinggian tertentu atau pada posisi yang membahayakan wajib mengenakan tali pengaman atau safety belt. Fungsi utama talai penganman ini dalah menjaga seorang pekerja dari kecelakaan kerja pada saat bekerja, misalnya saja kegiatan erection baja pada bangunan tower.


7. Penutup Telinga

penutup-telingaAlat ini digunakan untuk melindungi telinga dari bunyi-bunyi yang dikeluarkan oleh mesin yang memiliki volume suara yang cukup keras dan bising. Terkadang efeknya buat jangka panjang, bila setiap hari mendengar suara bising tanpa penutup telinga ini.

 


8. Masker

maskerPelidung bagi pernapasan sangat diperlukan untuk pekerja konstruksi mengingat kondisi lokasi proyek itu sediri. Berbagai material konstruksi berukuran besar sampai sangat kecil yang merupakan sisa dari suatu kegiatan, misalnya serbuk kayu sisa dari kegiatan memotong, mengampelas, mengerut kayu.

 


 

9. Tangga

tanggaTangga merupakan alat untuk memanjat yang umum digunakan. Pemilihan dan penempatan alat ini untuk mecapai ketinggian tertentu dalam posisi aman harus menjadi pertimbangan utama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10. P3K

p3kApabila terjadi kecelakaan kerja baik yang bersifat ringan ataupun berat pada pekerja konstruksi, sudah seharusnya dilakukan pertolongan pertama di proyek. Untuk itu, pelaksana konstruksi wajib menyediakan obat-obatan yang digunakan untuk pertolongan pertama.

 

Demikianlah peralatan standar k3 di proyek yang memang harus ada dan disediakan oleh kontraktor, barangkali sifatnya wajib. Ingat tindakan preventif jauh lebih baik dan murah ketimbang  sudah kejadian. so, take care

Categories: Civil Engeneering

Pembangunan Suramadu capai 82 %

27 January 2009 Leave a comment

cable-stayed2

Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) saat ini telah mencapai progres penyelesaian 82%. Saat ini pembangunan jembatan memasuki tahapan penting yakni pemasangan kabel baja pada bentang utama jembatan. “Dari segi teknis yang paling kritis adalah pemasangan kabel ini.” kata Direktur Pelaksanaan Jalan dan Jembatan Wilayah Barat Ditjen Bina Marga Departemen PU Hediyanto, di Jakarta, Jumat (13/6).

Pengerjaan bentang utama jembatan sepanjang 818 meter di lakukan oleh kontraktor dari China, sementara untuk jembatan penghubung dilakukan oleh kontraktor Indonesia. Namun untuk mempercepat penyelesaian pembangunan jembatan penghubung, pengerjaannya juga dibantu oleh kontraktor China. Penjang jembatan ini adalah 5,4 Km dan ditargetkan dapat selesai pada April 2009. Hadirnya Jembatan Suramadu selain memberikan efisiensi biaya angkut dan waktu tempuh kendaraan juga dapat menjadi landmark dan menjadi daerah tujuan wisata.

Untuk memperindah Jembatan Suramadu pada malam hari, menurut Hediyanto pihaknya telah mengusulkan dilakukan pemasangan lampu-lampu sehingga akan menambah sisi artistik jembatan yang dibangun dengan biaya yang cukup mahal tersebut. Selain sisi artistik, pihaknya juga sudah mengusulkan kepada Bappenas pemasangan alat monitoring dan pembuatan museum. Alat monitoring akn digunakan untuk memantau kondisi jembatan dan mengetahui lebih awal bila terjadi kerusakan. Sementara museum akan digunakan sebagai dokumentasi perjalanan pembangunan Jembatan Suramadu. (gt)

Dikutip dari http://www.pu.go.id/index.asp?link=/humas/news2003/ppw130608gt.htm

Video animasi jembatan Suramadu, silakan play

Video pembangunan Cable Stayed Bridge di Incheon, Korea Selatan :


Categories: Civil Engeneering

SHE (Safety, Healthy and Enveronment)

26 January 2009 6 comments

Seminggu yang lalu, saya mengikuti seminar sehari tentang SHE (Safety, Healty and Environment) atau bahasasafety4a sederhanya adalah K3. Sebenarnya kalo anda baca buku atau referensi yang lain K3 singkatan dari Keselamatan dan kesehatan kerja. Mengapa K3 itu penting dalam proyek konstruksi?? Karena memang proyek konstruksi pada umumnya merupakan kegiatan yang banyak mengandung unsur bahaya. Hal tersebut meyebabkan industri konstruksi mempunyai catatan yang buruk dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja. Situasi dalam proyek mencerminkan karakter yang keras dan kegiatannya terlihat sangat kompleks dan sulit dilaksanakan sehingga dibutuhkan stamina yang prima dari pekerja yang melaksanakannya.

Sebenarnya masalah SHE atau K3 tidak hanya pada masalah proyek konstruksi saja? Di lingkungan kita sehari-hari saja banyak sekali potensi bahaya yang tidak sedikit mengancam hidup kita. Misanya saja, diruangan ber AC tetap merokok padahal yang bersangkutan tahu bahwa ruangan ber AC tidak boleh merokok, yang terkena dampaknya justru yang tidak merokok (perokok pasif). Mengendarai kendaraan sembari telpon, sms, padahal tidak penting-penting amat untuk dijawab, dibalas dan tidak sedikitpula kecelakaan yang diakibatkan masalah ini. Stop kontak yang sudah renggang, sehingga colokan tidak bisa kokoh atau dengan kata lain mudah goyang. Hal tersebut, bila dibiarkan mengakibatkan konsleting listrik yang bisa jadi menimbulkan kebakaran. Beberapa contoh kecil seperti itu terkadang diabaikan oleh kita. Meskipun sederhana, namun dampaknya sangat besar. Dibutuhkan kesadaran dan kepekaan untuk melihat dan memahami masalah ini. Perlu latihan untuk membangun kesadaran dalam menangkap fenomena potensi bahaya di lingkungan kita sendiri.

safety6a1Tak dipungkiri memang lokasi proyek merupakan salah satu lingkungan kerja yang mengandung resiko cukup besar. Tim manajemen sebagai pihak yang bertanggung jawab selama proses pembangunan berlangsung harus mendukung dan mengupayakan program-program yang dapat menjamin agar tidak terjadi/ meminimalkan kecelakaan kerja atau tindakan preventif.

Hubungan antarpihak yang berkewajiban memperhatikan masalah K3 dalah kontraktor utama dengan subkotraktor. Kewajiban kontraktor dan rekan kerjanya adalah mengasurasikan pekerjanya selama masa pembangunan berlangsung. Pada rentang waktu pelaksanaan pembangunan, kontraktor utama maupun subkontraktor sudah selayaknya tidak megizinkan pekerjanya untuk beraktivitas bila terjadi hal-hal berikut :

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Tidak mematuhi peraturan keselamatan dan kesehatan kerja

2. Tidak menggunakan peralatan pelindung diri selama bekerja

3. Mengizinkan pekerja menggunakan peralatan yang tidak nyaman

Secara umum, setiap pekerja kontruksi harus mematuhi dan menggunakan peralatan perlindungan dalam bekerja sesuai safety6bperaturan keselamatan dan kesehatan kerja dalam setiap kotrak kerja yang dibuatya. Lantas apa yang dapat dilakukan, seandainya sudah terjadi kecelakaan ?? Sebelum saya membahas pertanyaan ini, ada baiknya kita teliti dulu faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja antara lain :

1. Faktor pekerja itu sendiri

2. Faktor metode konstruksi

3. Peralatan

4. Manajemen

Reputasi sebuah perusahaan konstruksi salah satunya ditentukan oleh catatan histories pengelolaan pekerja di proyek, terutama seberapa sering terjadinya kecelakaan kerja di proyek yang sedang dikelolanya. Jika semakin sering, tentunya berakibat kurang baik bagi tim proyek khususnya dan perusahaan. Pengaruhnya terhadap kemungkinannya untuk memperoleh proyek pada masa-masa mendatang dan apabila sebuah perusahaan tidak berhasil medapatkan proyek maka eksistensi perusahaan tersebut perlu ditanyakan karena sumber pendapatan perusahaan konstruksi sepenuhnya berasal dari jumlah proyek yang berhasil diperolehnya.

safety7aKesuksesan program K3 tidak lepas dari peran berbagai pihak yang saling terlibat, berinteraksi dan bekerj sama. Hal ini sudah seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi, yang dilakukan oleh tim proyek dan seluruh manajemen dari berbagai pihak yang terkait didalamnya. Masing-masing pihak mempunyai tanggung jawab bersama yang saling mendukung untuk keberhasilan pelaksanaan proyek konstruksi yang ditandai dengan evaluasi positif dari pelaksanaan program K3 ini.

“Mencegah lebih baik daripada mengobati” atau tindakan preventif jauh lebih baik daripada sudah kejadian. Dan saya kira cost yang dikeluarkan untuk tindakan preventif lebih murah daripada cost kalo memang sudah terjadi. 

 

safety7b

 

Beberapa usaha preventif timbulnya kecelakaan kerja perlu dilakukan sedini mungkin. misalya mengidentifikasi  setiap jenis pekerjaa yag beresiko dan mengelompokannya sesuai tingkat resikonya, adanya pelatihan bagi para pekerja konstruksi sesuai keahliannya, melakukan pengawasan secara lebih intensif terhadap pelaksanaan pekerjaan, menyediakan alat perlindungan kerja selama durasi proyek, serta melaksanakan pengaturan di lokasi proyek konstruksi.

Berikutnya akan saya bahas mengenai peralatan standar K3 di proyek, jadi stay tune on my blog. By The Way sebelum membaca masalah peralatan standar K3, silakan jelajahi blog ini untuk mencari artikel-artikel yang telah saya tulis sebelumnya, mudah-mudahan bermanfaat. See u

Categories: Civil Engeneering

DOZER

24 January 2009 5 comments

dozer

Dozer merupakan traktor yang dipasangkan blade dibagian depannya. Blade berfungsi untuk mendorong, atau memotong material yang ada didepannya. Jenis pekerjaan yang biasanya menggunakan dozer atau bulldozer adalah :

1). Mengupas top soil dan pembersihan lahan dari pepohonan

2). Pembukaan jalan baru

3). Pemindahan material pada jarak pendek sampai dengan 100 m

4). Membantu mengisi material pada scraper

5) Mengisi kembali saluran

6). Membersihkan quarry

 

A. Blade

Ada beberapa macam jenis blade yang dipasangkan pada dozer. Pemilihan jenis balde tergantung pada jenis pekerjaan yang akan dilakukan. Jenis blade yang umum dipakai adalah straight blade (S-balde), angle blade (A-blade), universal blade (U-blade) dan cushion blade (C-blade).

Pemasangan blad mempengaruhi gerakannya yang bervariasi tergantung dari kebutuhan pekerjaan. Gerakan blade terdiri dari tilt, pitch, dan angling. Jika ujung blade bergerak secara vertical maka gerakan ini disebut tilt. Sedangkan jika sisi atas blade bergerak menjauhi atau mendekati bdan traktor maka gerakan ini disebut pitch. Angling adalah gerakan blade pada sisi samping yang menjauhi atau mendekati badan traktor.

 

B. Produktivitas Dozer

Produktivitas dozer sangat tergantung pada ukuran blade, ukuran traktor dan jarak tempuh.

Kapasitas BladeUntuk mencarinya dapat digunakan rumus atau table.

Rumus  V =  WHL/2 denga nilai W = 1,5 – 1,67 (m) dan  Sudut α = 30 – 330

Waktu Siklus

Pemgisian blade umumnya dilakukan pada 40-50 ft (13-17 m) pertama dari jarak tempuh. Pada saat kembali, blade dala keadaan kosong. Waktu angkut dan kembali bulldozer dapat ditentukan dari jarak dibagi kecepatan untuk setiap variable. Perhitungan waktu siklus ditentukan juga oleh suatu waktu yang konsisten (fixed time- FT) yang merupakan waktu yang dibutuhkan bulldozer untuk mempercepat dan memperlambat laju kendaraan. FT pada umumnya berkisar antara 0,10 – 0,15 menit. Waktu yang diperlukan oleh dozer untuk melakukan 1 siklus adalah :

 

CT = FT + HT + RT

3. Produktivitas

Perhitungan maksimum produktivitas bulldozer dapat dicari dengan menggunakan rumus dan atau kurva.

Prod = Vl x 60/CT x efisiensi

D. Ripper

Adalah alat yang menyerupai cakar (shank) yang dipasangkan dibelakang traktor. Fungsi dari alat ini adalah untuk menggemburkan tanah keras. Jumlah cakar ripper antara satu sampai lima buah. Bentuk dari shank ada 2 macam, lurus dan lengkung. Shank lurus dipakai untuk aterial yang padat dan batuan berlapis. Sedangkan shank yang lengkung dipakai untuk batuan yang retak.

Perhitungan produktivitas ripper dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain. Pertama, dengan mengukur potongan topografi dilapangan dan waktu yang dibutuhkan untuk menggemburkan tanah. Kedua, dengan mengasumsikan kecepatan rata-rata ripperr yang bekerja pada suatu area.

 

E. Pembersihan Lahan

Sebelum pembangunan proyek konstruksi pada suatu lahan kosong, lahan tersebut harus dibersihkan dari semak atau pepohonan. Alat yang biasa digunakan adalah crawler traktor yang dilengkapi bulldozer blade atau blade khusus untuk membersihkan lahan seperti clearing blade atau rake.

Perhitungan produktivitas pembersihan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus :

Prod (ha/jam) = (lebar cut (m) x kec (km/jam) x eff) : 10

Sedangkan produktivitas pemotongan kayu atau pepohonan (menit/acre) dihitung dengan menggunakan rumus :

 

Prod = H (A x B + M1 x N1 + M2 x N2 + M3 x N3 + M4 x N4 + D x F)

 

Dengan H = factor kekerasan kayu

A = kepadatan pohon

B = base time

M = waktu pemotongan (menit)

N = banyak pohon per acre dengan diameter tertentu

D = jumlah diameter pohon pada ukuran lebih dari 6 ft (ft)

F = waktu pemotongan pohon dengan diameter lebih dari 2 meter atau 6 ft (menit/ft)

 

Tabel Faktor kekerasan kayu

Kekerasan kayu (%)

H

75 – 100 % kayu keras

1,3

25 – 75% kayu keras

1,0

0 – 25 % kayu keras

0,7

 

Sumber :

 Alat Berat untuk Proyek Alat Konstruksi (Edisi Kedua),  Penulis: Susy Fatena Roestiyanti

Categories: Civil Engeneering

Alat Pemroses Beton & Aspal

23 January 2009 13 comments

A. Alat Pemroses Beton

Beton merupakan campuran dari semen, agregat dan air. Campuran semen dan air disebut pasta. concrete-mixerAgregat yang digunakan secara umum untuk membuat beton adalah agregat halus dan agregat kasar. Campuran beton yang normal mengandung ¾ bagian agregat dan ¼ bagian pasta berdasarkan volume dengan rasio air-semen berkisar antara 0,4 – 0,7 berdasarkan berat.

Pekerjaan dalam pembuatan beton meliputi pengukuran berat setiap komponen beton, pencampuran bahan beton, pemindahan campuran beton, penempatan, konsolidasi, dan pengeringan. Sedangkan peralatan yang biasa dipakai dalam proses pembuatan beton sampai beton tersebut ditempatkan antara lain peralatan pencampur beton (concrete batching and mixing), peralatan pemindahan campuran beton, dan peralatan pengecoran.

1. Pencampuran Beton

Agregat pada batching plant diletakan pada staple material atau storage bin. Baik pada storage bin maupun pada staple material, agregat dipisahkan menjadi empat bagian yaitu butir kasar (split), butir menengah, butir halus dan pasir. Sedangkan semen diletakan pada suatu tabung disebut cement silo. Tabung ini tertutup rapat sehingga semen dalam keadaan tetap kering. Proses yang dilakukan dalam batching plant dapat secara manual, semi otomatis atau otomatis. Kapasitas dari batching plant biasanya tiga kali lebih besar dari kapasitas mixing plant.

2. Pemindahan Beton

Yang termasuk alat pengangkut beton adalah truck mixer, truck agitator, conveyor, pompa dan crane yang dilengkapi dengan bucket.

Pada saat beton tiba diproyek, beton tersebut docor kedalam cetakan. Untuk memudahkan pengecoran salah satunya dengan menggunakan pompa. Beton disalurkan kedalam cetakan dengan menggunakan pipa. Pipa ini dapat diletakan secara horizontal, vertical dan miring.

3. Pengecoran Beton

Setelah beton plastis dituangkan kedalam cetakan baik dengan menggunakan bucket maupun pipa, beton tersebut kemudian dikonsolidasikan dan diratakan. Cetakan harus bersih, disangga dengan baik dan kuat dan cetakan dilapisi semacam minyak untuk mencegah beton cepat mongering.

4. Perkerasan Beton

Perkerasan jalan yang menggunakan beton disebut perkerasan kaku (rigid pavement). Alat yang digunakan dalam pelaksanaan pengecoran beton untuk perkerasan antara lain Paving mixer, Concrete spreader, Tranveerse concrete finisher, Automatic curing machine, dan Slipform paver.

5. Produktivitas Mixer

Untuk mendapatkan kekuatan beton yang didiinginkan maka yang pertama dilakukan adalah menghitung volume masing-masing campuran bahan beton. Hasil dari penghitungan tersebut disebut dengan mix design.

B. Alat Pemroses Aspalasphalt-drum1

Aspal sebagian besar digunakan sebagai bahan perkerasan jalan. Jenis perkerasan yang mengunakan aspal disebut perkerasan lentur. Perkerasan aspal merupakan campuran dari aspal dan agregat (mix asphalt). Fungsi dari aspal pada campuran aspal adalah sebagai pengikat antar agregat, aspal yang masih padat disebut aspal cement. Campuran aspal agar kuat dan sesuai dengan yang diinginkan maka harus dihitung berdasarkan mix design, yaitu antara lain :

1). Stabil

2). Tidal menyebabkan selip

3). Tahan lama

4). Tidak mengalami kelelahan bahan

5). Kedap air

6). Mudah dikerjakan

7). Fleksibel

Alat-alat berat yang berhubungan dengan pekerjaan pengaspalan adalah sebagai berikut :

1. Asphalt Plant

Merupakan tempat tempat campuran aspal diaduk, dipanaskan dan dicampur. Ada dua macam asphalt plant yang sering digunakan yaitu drum mix plant dan batch plant.

a. Batch Plant

Ada beberapa komponen dari batch plant, yaitu sebagai berikut :

1). Cold feed system atau cold bin

2). Screen (saringan)

3). Drum dryer (drum pengering)

4). Hot bin (penampungan)

5). Hot elevator (elevator)

6). Pugmil mixer

b. Drum Mix Plant

Setiap jenis agregat diukur beratnya pada cold feed system maka agregat tersebut dialirkan kedrum mixer yang berotasi secara vertical

c. Tempat Penyimpanan Aspal

Aspal yang digunakan untuk membuat campuran temperaturnya berkisar 1500 C.

d. Silo

Silo adalah silinder vertical yang digunakan sebagai tempat penyimpanan camuran aspal hasil dari mixer

 

2. Alat Untuk Perkerasan

Pada saat membuat perkerasan dengan aspal, alat yang dibutuhkan berbeda dengan pembuatan perkerasan beton. Selain truck alat yang digunakan untuk perkerasan aspal adalah :

a). Asphalt distributor (distributor aspal)

b). Asphalt paver atau asphalt finisher

c). compactor (pemadat)

Sumber :

Alat Berat untuk Proyek Alat Konstruksi (Edisi Kedua); Penulis: Susy Fatena Roestiyanti

Categories: Civil Engeneering

Alat Pemancang Tiang

20 January 2009 9 comments

drop-hammer

Proyek-proyek besar seperti gedung pencakar langit memerlukan fondasi yang kuat untuk menyangga beban yang besar di atasnya. Jika daya dukung tanah dilokasi tidak memungkinkan untuk menahan beban yang besar,, fondasi semacam ini sangat diperlukan. Bentuk dari fondasi yang umum dipakai sebagai penyangga bangunan adalah pondasi tiang. Bahan dasar fondasi tiang yang umumnya dipakai adalah kayu, beton, baja, dan komposit. Jenis-jenis pondasi beton dapat berupa fondasi precast-prestesed dan fondasi cast-in place. Fondasi precast dan fondasi tiang dari baja dan komposit umumnya disebut sebagai fondasi tiang pancang karena fondasi ini dipancangkan pada suatu titik di atas permukaan tempat akan dibangun suatu bangunan. Pemancangan ini menggunakan alat pancang khusus.

A. Alat Tiang Pancang

Ada beberapa jenis alat pemancangan tiang yang digunakan didalam proyek konstruksi. Alat –alat tersebut antara lain :

1. Drop Hammer

Drop hammer merupakan palu berat yang diletakan pada ketinggian tertentu di atas tiang palu tersebut kemudian dilepaskan dan jatuh mengenai bagian atas tiang. Untuk menghindari menjadi rusak akibat tumbukan ini, pada kepala tiang dipasangkan semacam topi atau cap sebagai penahan energi atau shock absorber. Biasanya cap dibuat dari kayu.

Pemancangan tiang biasanya dilakukan secara perlahan. Jumlah jatuhnya palu permenit dibatasi pada empat sampai delapan kali. Keuntungan dari alat ini adalah :

a). investasi yang rendah

b). mudah dalam pengoperasian

c). mudah dalam mengatur energi per blow dengan mengatur tinggi

Kekurangan dari alat ini adalah :

a). kecepatan pemancangan yang kecil

b). kemungkinan rusaknya tiang akibat tinggi jatuh yang besar

c). kemungkinan rusaknya bangunan disekitar lokasi akibat getaran pada permukaan tanah

d). tidak dapat digunakan untuk pekerjaan dibawah air

2. Diesel Hammer

Alat pemancang tiang tipe ini berbentuk lebih sederhana dibandingkan dengan hammer lainnya. Diesel hammer memiliki satu silinder dengan dua mesin diesel, piston, atau ram, tangki bahan baker, tengki pelumas, pompa bahan baker, injector, dan mesin pelumas. Kelebihan diesel :

a). ekonomis dalam pemakaian

b). mudah dalam pemakaian di daerah terpencil

c). berfungsi dengan baik pada daerah dingin

d). mudah dalam perawatan

Kekurangan alat ini adalah :

a). kesulitan dalam menentukan energi per blow

b). sulit dipakai pada tanah lunak

3. Hydraulic Hammer

hidrulic-hammerCara kerja hammer ini adalah berdasarkan perbedaan tekanan pada cairan hidrolis. Salah satu hammer tipe ini dimanfaatkan untuk memancang fondasi tiang baja H dan fondasi lempengan baja dengan cara dicengkeram, didorong, dan ditarik. Alat ini baik digunakan jika ada keterbatasan daerah operasi karena tiang pancang yang dimasukan cukup pendek. Untuk memperpanjang tiang maka dilakukan penyambungan pada ujung-ujungnya.

4. Vibratory Pile Driver

Alat ini sangat baik dimanfaatkan pada tanh lembab. Jika material dilokasi berupa pasir kering maka pekerjaan menjadi lebih sulit karena material tidak terpengaruh dengan adanya getaran yang dihasilkan oleh alat. Efektifitas penggunaan alat ini tergantung pada beberapa factor yaitu amplitude, momen eksentrisitas, frekuensi, berat bagian bergetar dan berat lain tidak bergetar.

B. Penahan dan Pengatur Letak Tiang

1. Fixed Lead

Pengaturan posisi tiang dengan cara ini menggunakan lead yang terdiri dari rangkaian baja dengan tiga sisi berkisi seperti boom pada crane dan sisi yang satu terbuka. Sisi yang terbuka adalah tempat tiang diletakan.

2. Swing Lead

Jika lead tidak disambungkan dengan crane atau pelat pemancang pada bagian bawahnya maka lead jenis dinamakan swing lead.

3. Hydraulic Lead

system yang digunakan pada metode ini adalah dengan menggunakan silinder hidrolis sebagai pengaku. Silinder hidrolis tersebut merupakan penghubung bagian bawah lead dengan pemancang. Dengan system ini pengaturan posisi tiang dapat dilakkan secara lebih akurat dan cepat.

C. Pemilihan Alat Pemancang Tiang

Kriteria-kriteria pemilihan alat pancang antara lain : jenis material, ukuran berat, pancang tiang yang akan dipancangkan, bagaimana kondisi lapangan yang mempengaruhi pengoperasian, hammer yang akan dipilih harus seuai dengan daya dukung tiang dan kedalaman pemancangan dan pilihlah alat yang ekonomis dengan kemampuan alat yang sesuai dengan yang dibutuhkan.

Sumber :

Alat Berat untuk Proyek Alat Konstruksi (Edisi Kedua); Penulis: Susy Fatena Roestiyanti

Categories: Civil Engeneering